Trump vs Netanyahu, Negosiasi Iran Ikut Terseret
Presiden Donald Trump selama berbulan-bulan memproyeksikan keyakinan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik Iran sudah dekat. Namun, tekad Israel mengejar agenda keamanannya sendiri memperlihatkan kontrol Trump atas hasil akhir krisis ini tidak sekuat yang ia tampilkan, terutama ketika perang memasuki bulan keempat dan titik tekan berpindah ke Lebanon.
Keretakan terbaru muncul setelah eskalasi militer Israel terhadap Hezbollah di Lebanon memicu panggilan Trump–Benjamin Netanyahu. Keduanya memberi versi berbeda soal apa yang disepakati: Trump sempat menggambarkan adanya penghentian tembak-menembak yang lebih luas, sementara Netanyahu hanya mengisyaratkan pembatasan serangan tertentu dan menegaskan operasi Israel di Lebanon selatan tetap berjalan. Perbedaan ini menyorot jurang kepentingan: AS dan Israel tidak sepenuhnya sejalan soal “akhir perang” yang diinginkan.
Perbedaan tujuan itu ikut mengganggu pembicaraan Washington–Teheran, karena Iran menegaskan Lebanon harus menjadi bagian dari paket kesepakatan. Iran pada Senin mengatakan pertukaran pesan melalui mediator dihentikan, sementara Trump pada Selasa membantah pembicaraan berhenti. Ketidakpastian ini muncul saat Netanyahu mengancam serangan baru ke Beirut, memperkuat persepsi bahwa jalur diplomasi mudah tersandera dinamika perang di Lebanon.
Pasar energi merespons dengan kembali memasukkan premi risiko, meski tidak meledak. Minyak menguat untuk sesi kedua berturut-turut karena pelaku pasar lebih memperhatikan arus fisik dan risiko gangguan jalur pelayaran ketimbang narasi yang saling bertolak belakang dari AS dan Iran. Brent ditutup di sekitar US$96 per barel, menegaskan harga masih sensitif terhadap headline dan status chokepoint.
Di belakang layar, laporan Axios menyebut panggilan Trump–Netanyahu berlangsung panas, termasuk tudingan ketidakberterimaan, meski belum ada konfirmasi resmi dari Gedung Putih maupun Kedutaan Israel. Sejumlah pengamat menilai Iran mencoba memanfaatkan perbedaan sikap AS–Israel untuk memperlemah posisi negosiasi Washington, dan sejauh ini terlihat ada celah yang bisa dieksploitasi.
Pola yang terbentuk makin jelas: setiap kali ada sinyal gencatan sementara, tensi Lebanon membesar, Iran mengancam menarik diri dari pembicaraan, Trump kembali menekan Netanyahu, lalu muncul klaim “kemajuan” baru—siklus yang berulang dan membuat pasar ragu apakah ada jalan keluar yang benar-benar stabil. Di saat bersamaan, isu inti seperti kebebasan navigasi Hormuz, dana Iran yang dibekukan, dan desain keamanan regional masih belum terselesaikan.
Bagi pasar, ukuran keberhasilan bukan lagi pernyataan optimistis, tetapi eksekusi yang bisa diverifikasi. Selama perang Lebanon belum benar-benar mereda dan perbedaan AS–Israel tetap terbuka, risiko pada arus energi—termasuk ancaman pembatasan lebih ketat di Hormuz maupun Bab el-Mandeb—akan terus menjadi sumber volatilitas dan menjaga premi geopolitik tetap “lengket”. (Arl)*
Sumber : Newsmaker.id