• Wed, Jun 3, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

3 June 2026 20:17  |

IAEA Peringatkan Risiko Proliferasi Iran Naik, Uranium Kini di Luar Verifikasi

Risiko bahwa Iran diam-diam mengejar senjata nuklir dinilai lebih tinggi sekarang dibanding sebelum AS dan Israel melancarkan serangan militer pertama terhadap Iran pada Juni 2025, menurut pejabat Barat yang mengutip data baru dari badan pengawas atom PBB. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memperingatkan negara anggota soal bahaya proliferasi yang muncul dari persediaan uranium Iran pada tingkat “hampir bom” yang besar.

Dokumen terbatas IAEA setebal 119 halaman yang diedarkan bulan lalu di Wina menyatakan badan tersebut “tidak dapat menarik kesimpulan apa pun” atas material nuklir itu. IAEA menilai situasi ini menimbulkan kekhawatiran proliferasi karena material yang tidak dapat diverifikasi mencakup jumlah besar uranium yang diperkaya tinggi, dan semakin lama berada di luar pengawasan, semakin tinggi risiko dialihkan untuk penggunaan yang tidak damai.

Sebelum serangan udara Juni 2025 yang memicu perang 12 hari, material tersebut berada di bawah inspeksi mingguan IAEA untuk memastikan tidak ada pengalihan. Setelah perang dan pembatasan baru oleh Iran, tingkat inspeksi dilaporkan turun lebih dari separuh, dan tim pemantau belum kembali ke lokasi yang rusak di Fordow, Isfahan, dan Natanz. Di tiga lokasi itu, IAEA terakhir kali melihat 440,9 kilogram uranium yang diperkaya tinggi dan 8.599,6 kilogram uranium yang diperkaya rendah.

Peringatan IAEA memperlihatkan dilema baru yang muncul dari konflik: klaim kerusakan fasilitas tidak otomatis menghilangkan risiko jika material nuklir tidak lagi bisa diverifikasi. Ini menjadi perhatian pasar karena proses diplomasi terkait Iran masih rapuh, dan ketidakpastian nuklir ikut menahan harapan bahwa kondisi geopolitik cepat stabil, termasuk terkait kelancaran aliran energi melalui Selat Hormuz.

Gedung Putih menyatakan program nuklir Iran telah dihancurkan, namun pada saat yang sama disebut berupaya menegosiasikan akses ke uranium tersebut. Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan opsi bahwa material bisa diekspor dari Iran atau dinetralisir di dalam negeri di bawah pengawasan IAEA, sementara sejumlah pejabat khawatir putaran pembicaraan terbaru yang tidak melibatkan IAEA dapat menciptakan risiko baru dan membentuk ekspektasi yang tidak realistis.

Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi mengatakan kepada Al Jazeera pada Selasa bahwa IAEA bukan pihak dalam negosiasi dan baru berpartisipasi hingga putaran terakhir yang berakhir pada Februari, seraya menekankan bahwa hal yang tidak dapat diverifikasi berisiko menghasilkan kesepakatan yang buruk. Dengan pertemuan penting dewan IAEA dijadwalkan pada 8 Juni di Austria, pasar akan memantau setiap pembaruan terkait status verifikasi material, akses inspeksi ke tiga lokasi utama, serta sinyal apakah kerangka kesepakatan memasukkan mekanisme pengawasan yang bisa dijalankan secara operasional.(gn)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

GLOBAL ECONOMY

Trump Berjanji untuk 'Segera' Bernegosiasi untuk Mengakhiri ...

Presiden Donald Trump mengumumkan pada hari Rabu bahwa ia dan pemimpin Rusia sepakat melalui panggilan telepon untuk "segera"...

13 February 2025 12:25
GLOBAL ECONOMY

Nonfarm Payrolls AS Naik 143.000 Pada Januari Vs. 170.000 Ya...

Nonfarm Payrolls (NFP) di AS naik 143.000 pada Januari, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan pada hari Jumat. Angk...

7 February 2025 20:40
GLOBAL ECONOMY

Kanada Akan Mengumumkan Tarif Balasan Senilai C$29,8 Miliar ...

Kanada akan mengumumkan tarif balasan senilai C$29,8 miliar terhadap Amerika Serikat pada hari Rabu (12/3) sebagai tanggapan ...

12 March 2025 18:54
GLOBAL ECONOMY

Tiongkok Tegaskan AS Harus Membatalkan Tarif Sebelum Pembica...

Beijing menegaskan kembali seruannya kepada AS untuk membatalkan tarif sepihak terhadap Tiongkok, menggarisbawahi kebuntuan a...

8 May 2025 16:16
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai