Pekan Kedua Shutdown: Amerika Perlahan Lumpuh, Kongres Masih Saling Serang
Pemerintahan Amerika Serikat memasuki pekan kedua government shutdown tanpa tanda-tanda penyelesaian, setelah Kongres gagal mencapai kesepakatan anggaran untuk tahun fiskal 2026. Dampak dari kebuntuan politik ini mulai terasa luas di berbagai sektor, dari pelayanan publik, penerbangan, hingga ekonomi nasional.
Berdasarkan laporan Reuters dan Associated Press, Internal Revenue Service (IRS) menjadi salah satu lembaga paling terdampak, dengan sekitar 34.000 pegawai atau hampir setengah dari total tenaga kerja harus menjalani furlough (cuti tanpa gaji). Operasional penting seperti layanan call center dan sistem TI mengalami penurunan signifikan, sementara hanya 53% pegawai yang masih bekerja untuk menjaga fungsi dasar.
Di Capitol Hill, Senat masih terbelah tajam terkait isi rancangan undang-undang anggaran. Partai Demokrat mendesak agar subsidi kesehatan dalam Affordable Care Act tetap disertakan, sedangkan kubu Republik menolak keras karena dianggap membebani fiskal negara. Kebuntuan inilah yang membuat RUU pendanaan gagal lolos, memperpanjang penutupan sebagian besar lembaga pemerintah federal.
Sementara itu, sektor transportasi dan penerbangan juga mulai merasakan tekanan. Beberapa bandara besar melaporkan kekurangan petugas pengatur lalu lintas udara (ATC), meski belum terjadi gangguan besar. Di beberapa wilayah, pilot bahkan menggunakan frekuensi komunikasi darurat untuk mengatur lepas landas dan pendaratan akibat minimnya staf di menara kontrol.
Dari sisi ekonomi, lembaga riset Politico Economics memperkirakan shutdown yang terus berlanjut bisa memangkas hingga USD 15 miliar dari Produk Domestik Bruto (GDP) setiap minggu. Dampak ini terutama berasal dari hilangnya belanja konsumen, tertundanya pembayaran pemerintah, serta melambatnya kontrak sektor publik. Para ekonom memperingatkan, jika shutdown berlangsung lebih dari tiga minggu, efek domino terhadap pasar tenaga kerja dan konsumsi rumah tangga akan semakin besar.
Meski negosiasi terbuka di Kongres belum menunjukkan hasil, pembicaraan informal antara anggota kedua partai dikabarkan mulai terjadi secara tertutup. Sumber internal menyebutkan adanya upaya mencari kompromi terbatas agar sebagian lembaga vital dapat beroperasi kembali sebelum akhir bulan Oktober.
Di sisi pasar keuangan, situasi ini menciptakan volatilitas tinggi pada dolar AS dan pasar obligasi. Investor global masih menilai shutdown ini bersifat sementara, namun jika kebuntuan politik berlarut, kepercayaan terhadap stabilitas fiskal Amerika bisa terguncang.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id