Pemerintah AS Tutup: Politik Pecah, Ekonomi Gelisah
Pemerintah Amerika Serikat resmi menutup sebagian besar operasinya pada Rabu(1/10) setelah perpecahan politik antara Partai Demokrat dan Partai Republik membuat Kongres gagal menyepakati anggaran pendanaan. Penutupan ini diperkirakan akan berlangsung lama, berpotensi mengancam ribuan pekerjaan federal serta menahan gaji tentara AS. Dampaknya langsung terasa: rilis data ekonomi penting terhenti, perjalanan udara terganggu, dan sekitar 750.000 pegawai federal terpaksa dirumahkan.
Masalah utama terletak pada anggaran sebesar $1,7 triliun yang diperlukan untuk operasional lembaga pemerintah, bagian dari total anggaran negara yang mencapai $7 triliun. Demokrat menolak rancangan anggaran karena tidak ada perpanjangan subsidi kesehatan bagi jutaan warga Amerika, sementara Partai Republik bersikeras bahwa isu tersebut harus dibahas secara terpisah. Perbedaan sikap inilah yang membuat kompromi semakin sulit dicapai.
Kondisi makin panas karena Presiden Donald Trump, yang saat ini sedang berkuasa, menekan Partai Demokrat dengan ancaman pemangkasan anggaran, PHK permanen, bahkan pembubaran program-program pemerintah. Penutupan ini langsung mengguncang pasar: harga emas melonjak ke rekor tertinggi, saham Asia berfluktuasi, dan dolar AS melemah terhadap mata uang utama lainnya. Investor khawatir dampak ekonomi akan semakin berat jika penutupan berlangsung lama.
Bagi Partai Demokrat, isu layanan kesehatan jadi titik perjuangan penting menjelang pemilu paruh waktu 2026. Mereka mendapat tekanan dari basis pendukung untuk tidak mengalah pada Trump yang dinilai sering menolak mengeluarkan dana meski sudah disetujui Kongres. Namun, kebuntuan ini justru memperlihatkan semakin tajamnya polarisasi politik di AS, dengan masing-masing pihak sulit mundur karena tekanan dari pendukung garis keras mereka.
Situasi ini mengingatkan pada penutupan pemerintah terlama dalam sejarah AS tahun 2018–2019 yang berlangsung 35 hari, juga di bawah pemerintahan Trump. Bedanya, kini kondisi politik lebih rapuh, ditambah dengan polarisasi ekstrem di kedua kubu. Para analis memperingatkan, tanpa jalan tengah, shutdown kali ini bisa jauh lebih lama dan lebih merusak, tidak hanya bagi ekonomi AS tapi juga pasar global. (az)
Source: Newsmaker.id