Houthi Serang Tanker Saudi, Laut Merah Jadi Titik Panas Baru Minyak
Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Saudi di Laut Merah. Dua kapal tersebut diidentifikasi sebagai Encelia dan Layla, yang disebut Houthi melanggar blokade laut terhadap kapal-kapal terkait Arab Saudi. Serangan ini dilakukan dengan rudal dan drone, menurut laporan terbaru dari sejumlah media internasional.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan serangan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan keputusan blokade yang diumumkan kelompok itu sebelumnya. UK Maritime Trade Operations atau UKMTO juga menerima laporan adanya kapal tanker yang terkena proyektil tidak dikenal dan terbakar di Laut Merah, sekitar 70 mil laut dari Al Shuqaiq, Arab Saudi.
Kantor berita resmi Saudi melaporkan bahwa kapal milik Saudi, Encelia, menjadi sasaran saat berlayar di Laut Merah dan mengalami kebakaran di bagian depan kapal. Seluruh awak dilaporkan selamat, sementara otoritas mengambil langkah pengamanan untuk melindungi kapal, kru, dan lingkungan laut.
Update terbaru menunjukkan dampak serangan mulai terasa pada jalur pelayaran. Reuters melaporkan sejumlah kapal mulai mengubah rute di Laut Merah setelah ancaman Houthi meningkat. Beberapa tanker bahkan beralih menuju Terusan Suez, sementara pasukan laut Uni Eropa melalui misi Aspides menyarankan kapal membatasi sinyal pelacakan dan menghindari area Laut Merah atau Teluk Aden.
Serangan ini membuat risiko energi global semakin besar karena Laut Merah menjadi jalur penting, terutama saat arus minyak melalui Selat Hormuz juga terganggu akibat konflik AS-Iran. Jika kapal-kapal makin banyak menghindari Laut Merah, biaya pengiriman dan asuransi berpotensi naik, sementara waktu tempuh perdagangan energi bisa menjadi lebih panjang.
Dampaknya ke market, harga minyak berpotensi tetap sensitif terhadap setiap perkembangan di Laut Merah dan Selat Hormuz. Jika serangan Houthi berlanjut, pasar bisa kembali memasukkan premi risiko pasokan, sehingga Brent dan WTI berpeluang bergerak volatil. Kondisi ini juga dapat menambah tekanan inflasi global, menopang dolar AS sebagai safe haven, dan membuat emas ikut bergerak fluktuatif mengikuti perubahan sentimen geopolitik. (asd)
Sumber: Newsmaker.id