AS Iran Berpeluang Damai Minggu, Hormuz Jadi Kunci
Amerika Serikat dan Iran dilaporkan berpeluang menandatangani kesepakatan damai paling cepat pada Minggu, setelah media pemerintah Iran menyebut draf kesepakatan telah memuat sejumlah poin penting. Salah satu isi utama dalam draf tersebut adalah komitmen AS untuk mencabut sanksi minyak Iran dan janji Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari.
Berdasarkan laporan Kantor Berita Mehr, dokumen kesepakatan yang terdiri dari 14 poin itu menetapkan bahwa negosiasi akhir belum akan dimulai sebelum sejumlah syarat utama dipenuhi. Syarat tersebut mencakup pelepasan separuh dana Iran yang dibekukan, penangguhan sanksi minyak, serta pencabutan blokade angkatan laut.
Selain itu, laporan tersebut juga menyebut bahwa seluruh pasukan Amerika harus menarik diri dari Iran. AS dan sekutunya juga disebut diminta mengajukan rencana rekonstruksi untuk Iran dengan nilai sedikitnya US$300 miliar, sebagai bagian dari upaya pemulihan pascakonflik.
Kabar mengenai potensi penandatanganan kesepakatan di Swiss muncul di tengah persiapan pertemuan para pemimpin dunia dalam KTT G7 yang berlangsung pada 15–17 Juni di Evian, Pegunungan Alpen Prancis. Momentum ini membuat isu damai AS-Iran menjadi perhatian utama pasar global, terutama karena konflik tersebut telah memengaruhi jalur energi, harga minyak, inflasi, dan sentimen aset berisiko.
Namun, kepastian kesepakatan masih belum final. Kantor berita resmi Iran, IRNA, mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran yang menyebut waktu dan tempat pertemuan masih sebatas spekulasi media. Pengumuman resmi baru akan disampaikan setelah kedua negara mencapai kesimpulan akhir.
Secara opini, peluang damai AS-Iran dapat menjadi katalis besar bagi pasar global jika benar-benar terealisasi. Pembukaan kembali Selat Hormuz berpotensi menurunkan premi risiko di pasar minyak, meredakan tekanan inflasi energi, dan memperbaiki minat investor terhadap aset berisiko. Namun, selama syarat utama seperti pencabutan sanksi minyak, pelepasan dana beku, dan isu rekonstruksi belum disepakati secara resmi, pasar kemungkinan tetap bergerak hati-hati.(gn)
Sumber: Newsmaker.id