Gencatan AS–Iran Kritis, Risiko Selat Hormuz Tetap Tinggi
Gencatan senjata AS–Iran memasuki momen paling rapuh pada Senin setelah Presiden Donald Trump mengatakan kesepakatan itu berada dalam “kondisi kritis” dan menolak tawaran perdamaian terbaru Teheran. Trump menyebut respons Iran sebagai “sampah” dan mengatakan ia “bahkan tidak selesai membacanya,” mempertegas kebuntuan diplomatik di tengah perang 10 minggu yang sudah memicu krisis energi global.
Menurut sumber yang mengetahui pembahasan, Iran merespons proposal perdamaian AS pekan lalu dengan menuntut pencabutan blokade angkatan laut Washington dan keringanan sanksi, sambil tetap mempertahankan kendali atas lalu lintas Selat Hormuz. Trump tidak menjelaskan apakah AS akan melanjutkan serangan militer yang sebelumnya ia ancam, namun menyatakan sedang mempertimbangkan menghidupkan kembali rencana pengawalan kapal komersial melalui selat tersebut.
Kebuntuan ini menjaga Selat Hormuz tetap menjadi pusat risiko pasar energi. Jalur itu disebut sebagian besar masih terblokir, sehingga Iran dan negara-negara Teluk sulit mengekspor energi melalui rute yang sebelum perang menyalurkan sekitar seperlima minyak dan LNG dunia. Ketidakpastian pasokan memperpanjang premi risiko dan menjaga sensitivitas inflasi terhadap setiap perkembangan geopolitik di kawasan.
Risiko operasional dan biaya keamanan ikut meningkat. Angkatan Laut AS disebut menanggung biaya tambahan jutaan dolar setiap kali mengirim kapal perusak melintasi jalur itu karena kebutuhan pengawasan ekstra dan dukungan jet tempur serta helikopter. Iran juga dilaporkan mengerahkan kapal selam mini kelas Ghadir di Teluk Persia, menambah kekhawatiran pemilik kapal; sebuah tanker LNG dari Qatar dilaporkan berbalik arah pada Senin, meski sebagian kapal lain masih dapat melintas.
Peringatan soal dampak jangka panjang ikut menguat. Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menilai reputasi Hormuz sebagai jalur energi andal berisiko rusak permanen akibat penutupan berkepanjangan, sementara CEO Saudi Aramco Amin Nasser mengatakan pasar minyak global kehilangan 100 juta barel per minggu ketika Hormuz ditutup dan pemulihan dapat memakan waktu berbulan-bulan bahkan jika jalur dibuka kembali. Fokus pasar kini tertuju pada kelanjutan blokade dan kontrol lalu lintas Hormuz, keputusan AS terkait pengawalan, serta sinyal diplomatik dari perundingan yang masih buntu.(gn)
Sumber: Newsmaker.id