BoE Tahan Suku Bunga 3,75% Saat Risiko Energi Mengerek Inflasi
Bank of England (BoE) menahan suku bunga acuannya (Bank Rate) di 3,75% pada Kamis, sejalan ekspektasi pasar, di tengah ketidakpastian dampak perang Iran terhadap harga energi global dan prospek inflasi Inggris.
Keputusan diambil dengan voting 8-1 di Monetary Policy Committee, dengan Kepala Ekonom BoE Huw Pill menjadi satu-satunya anggota yang memilih kenaikan 25 bps, mencerminkan kekhawatiran terhadap tekanan harga yang kembali menguat.
Pasca keputusan, pound menguat sekitar 0,4% terhadap dolar ke US$1,3473, sementara imbal hasil gilt 10 tahun turun 6 bps ke 5,014%, menandakan pasar menilai bank sentral belum terdorong untuk memperketat kebijakan dalam waktu dekat.
BoE menilai konflik Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan biaya energi dan bahan bakar, namun menekankan kebijakan moneter tidak bisa memengaruhi harga energi secara langsung; fokus bank sentral adalah memastikan penyesuaian ekonomi tetap konsisten dengan target inflasi 2% secara berkelanjutan.
Data inflasi terbaru yang dikutip BoE menunjukkan CPI naik ke 3,3% pada Maret dari 3% sebelumnya, dan bank sentral memperkirakan inflasi “kemungkinan lebih tinggi” pada paruh kedua tahun ini saat kenaikan energi menular ke harga, dengan perhatian pada risiko efek putaran kedua melalui upah dan penetapan harga.
BoE juga memaparkan beberapa skenario: dalam skenario paling ringan inflasi naik ke 3,5% di akhir tahun ini sebelum turun, sedangkan skenario terburuk memperlihatkan inflasi bisa memuncak 6,2% pada awal 2027 dan tetap di atas target hingga 2029, dengan implikasi suku bunga berpotensi naik lebih agresif namun meningkatkan risiko pelemahan pertumbuhan; pasar kini akan memantau jalur harga energi, dinamika upah, pelonggaran pasar tenaga kerja, dan pergerakan kondisi keuangan. (gn)*
Sumber: Newsmaker.id