Di Tengah Perang dan Sanksi, Ekonomi Iran Menghadapi Tekanan Berat
Teheran menjadikan tekanan ekonomi sebagai strategi utama dalam konflik yang sedang berlangsung. Serangan Iran dilaporkan menyasar infrastruktur energi negara-negara tetangga, sekaligus memberlakukan blokade terhadap Selat Hormuz—jalur vital yang sebelum perang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Langkah ini memicu salah satu guncangan energi terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Sebelum konflik memanas, ekonomi Iran sebenarnya sudah berada di bawah tekanan berat akibat sanksi internasional. Tingkat inflasi tercatat melampaui 50 persen sepanjang 2025. Nilai tukar mata uangnya, rial, juga mengalami pelemahan tajam hingga kehilangan sekitar 60 persen nilainya dalam beberapa bulan setelah perang singkat selama 12 hari melawan Amerika Serikat pada Juli tahun lalu.
Tekanan harga semakin memburuk pada sektor pangan. Inflasi makanan melonjak hingga 64 persen pada Oktober tahun lalu dan terus meningkat menjadi 105 persen pada Februari. Dalam periode hingga Maret 2026, harga roti dan sereal naik hingga 140 persen, sementara minyak dan lemak melonjak drastis mencapai 219 persen.
Dalam upaya meredam inflasi dan memenuhi kebutuhan uang tunai masyarakat, bank-bank di Iran mulai mengedarkan uang kertas pecahan 10 juta rial bulan lalu—menjadi denominasi terbesar sepanjang sejarah negara tersebut. Kebijakan ini mencerminkan tekanan likuiditas yang semakin besar di dalam negeri.
Dalam laporan World Economic Outlook, International Monetary Fund memperkirakan ekonomi Iran akan mengalami kontraksi sebesar 6,1 persen pada 2026, dengan tingkat inflasi mencapai 68,9 persen. Nilai tukar rial juga terus terdepresiasi hingga berada di kisaran 1,32 juta per dolar Amerika Serikat.
Namun demikian, analisis kondisi ekonomi Iran selama perang menghadapi berbagai keterbatasan. Pemerintah Iran belum merilis data produk domestik bruto sejak 2024, sementara pemadaman internet secara luas membuat akses terhadap statistik domestik menjadi sangat terbatas bagi pihak luar.
Penutupan efektif Selat Hormuz serta blokade lanjutan oleh Amerika Serikat telah memutus sebagian besar jalur perdagangan internasional Iran, termasuk ekspor minyak. Lebih dari 90 persen perdagangan tahunan Iran sebelumnya bergantung pada jalur tersebut. Tekanan yang berlanjut akibat blokade diperkirakan dapat memangkas hingga 70 persen pendapatan ekspor negara itu.
Konflik juga memicu penurunan tajam pada permintaan domestik dan aktivitas impor. Meski data resmi terbatas, indikator perdagangan dari negara mitra pada Maret menunjukkan bahwa ekspor ke Iran mengalami penurunan drastis. Di sisi lain, pemerintahan Donald Trump juga meningkatkan tekanan dengan mengancam sanksi baru terhadap bank-bank China yang memfasilitasi transaksi terkait Iran, yang berpotensi semakin mempersempit ruang gerak ekonomi negara tersebut.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id