Trump Tekan NATO soal Iran, Retorika ke Sekutu Tambah Risiko Geopolitik
Presiden AS Donald Trump kembali menyerang NATO dengan mempertanyakan besarnya belanja Washington untuk aliansi tersebut, sembari memperingatkan negara anggota yang tidak membantu AS dalam perang Iran akan menghadapi konsekuensi. Trump menyampaikan bahwa jika sekutu “tidak bersama” AS soal Iran, maka mereka juga tidak akan bersama AS pada isu yang “lebih besar” dari Iran.
Pernyataan ini muncul ketika sejumlah negara anggota disebut menolak memberi izin penggunaan pangkalan militer untuk serangan awal ke Iran dan tidak merespons seruan AS untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz—jalur vital minyak dan gas yang secara efektif ditutup Teheran dan kini berada di bawah blokade laut AS yang menarget ekspor minyak Iran. Trump menegaskan hubungan dengan negara yang menolak membantu “tidak akan sama lagi.”
Trump secara khusus menyinggung Italia. Ia menyebut Perdana Menteri Giorgia Meloni “negatif” dan mengatakan sikap itu mengubah hubungan AS–Italia, sambil menambahkan Italia banyak bergantung pada minyak dari jalur Hormuz. Trump juga mengisyaratkan hubungan yang sebelumnya hangat menjadi menegang setelah penolakan Meloni terhadap perang dan kritik Trump terhadap pemimpin Gereja Katolik terkait komentar atas operasi militer AS.
Retorika Trump terhadap NATO disebut meningkat dalam beberapa pekan terakhir, termasuk menyebut negara anggota “pengecut” dan aliansi sebagai “paper tiger.” Trump juga kembali mengangkat kemungkinan AS meninggalkan NATO serta mengulang keluhan soal Greenland. Meski keluar dari NATO memerlukan persetujuan Kongres, pernyataan tersebut menambah kekhawatiran sekutu bahwa dukungan AS terhadap aliansi bisa melemah melalui jalur lain, termasuk yang berdampak pada upaya memperkuat Ukraina menghadapi Rusia.
Bagi pasar, tekanan terbuka terhadap koherensi NATO menambah lapisan risiko geopolitik: potensi friksi kebijakan di antara sekutu dapat memperpanjang ketidakpastian keamanan kawasan, memengaruhi koordinasi soal jalur energi seperti Hormuz, dan menjaga premi risiko pada energi serta aset safe haven. Pelaku pasar akan memantau respons resmi negara anggota NATO, sinyal kebijakan AS terkait blokade dan Hormuz, serta indikasi apakah ketegangan politik ini merembet ke komitmen pertahanan dan koordinasi keamanan yang lebih luas. (Arl)*
Sumber: Newsmaker.id