Retaknya Barat: Saat Eropa Mulai Jaga Jarak dari Perang AS-Israel
Pandangan bahwa sumber instabilitas global saat ini bukan semata datang dari kelemahan NATO, melainkan dari eskalasi konflik Timur Tengah yang melibatkan Israel dan didukung kuat oleh Amerika Serikat, kian menguat. Dalam beberapa pekan terakhir, sorotan internasional tidak hanya tertuju pada ancaman Presiden Donald Trump untuk menarik AS dari NATO, tetapi juga pada semakin lebarnya jarak politik antara Washington dan sejumlah sekutu Eropanya terkait perang dengan Iran serta dukungan militer ke Israel.
Retakan itu terlihat jelas ketika beberapa negara Eropa menolak memberi dukungan penuh terhadap operasi militer AS. Reuters melaporkan Prancis menegaskan NATO dibentuk untuk keamanan kawasan Euro-Atlantik, bukan untuk mendukung operasi ofensif di Selat Hormuz. Pada saat yang sama, Prancis menolak hak lintas udara bagi pesawat Israel yang mengangkut senjata AS, sementara Italia memperketat akses pangkalan militer dan Spanyol menutup wilayah udaranya bagi pesawat militer AS. Sikap ini menunjukkan bahwa meski negara-negara Eropa masih ingin mempertahankan NATO, mereka tidak ingin otomatis terseret ke agenda perang Washington di luar mandat pertahanan kolektif aliansi.
Di sisi lain, dukungan Washington terhadap Israel tetap sangat kuat. Pada 7 Maret 2026, pemerintahan Trump menggunakan emergency authority untuk mempercepat penjualan lebih dari 20.000 bom ke Israel senilai sekitar 650 juta dolar AS, sekaligus melewati proses peninjauan normal di Kongres. Langkah ini memperkuat persepsi global bahwa AS bukan sekadar sekutu politik Israel, tetapi juga pendorong utama kapasitas militernya di tengah konflik kawasan yang terus melebar.
Kritik terhadap dukungan itu semakin tajam karena dampak kemanusiaannya terus membesar. Reuters melaporkan otoritas kesehatan Gaza mencatat lebih dari 72.000 warga Palestina tewas sejak perang dimulai pada Oktober 2023. Pada saat yang sama, PBB memperingatkan bahwa meluasnya perang di Timur Tengah telah mengganggu jalur bantuan global, menaikkan biaya pengiriman pangan dan obat-obatan, serta memperburuk kerawanan pangan di banyak kawasan rentan. Artinya, konflik ini tidak lagi hanya menjadi isu regional, melainkan sudah memukul stabilitas ekonomi dan kemanusiaan global.
Karena itu, respons Eropa hari ini bisa dibaca sebagai upaya mengambil jarak strategis, bukan memutus hubungan total dengan Amerika. Finlandia bahkan menyebut sedang terbentuk “a more European NATO”, sementara Inggris menilai situasi dunia yang makin volatil menuntut hubungan pertahanan yang lebih erat dengan Eropa. Pesannya cukup jelas: Eropa masih menganggap NATO penting, tetapi mereka juga mulai mempersiapkan diri agar tidak sepenuhnya bergantung pada keputusan Washington, terutama bila AS terus membawa aliansi ke konflik yang tidak disepakati bersama.
Dalam konteks itu, perdebatan soal NATO sebenarnya hanya permukaan. Di bawahnya ada persoalan yang lebih besar: krisis kepercayaan terhadap cara Amerika menggunakan kekuatan globalnya. Selama dukungan militer ke Israel terus berlanjut, sementara korban sipil dan dampak kemanusiaan makin berat, tekanan politik terhadap Washington kemungkinan akan terus naik, termasuk dari sekutu-sekutu dekatnya sendiri.
Penyebab pandangan ini makin menguat
Dukungan militer AS ke Israel sangat nyata dan terukur. Emergency sale lebih dari 20.000 bom ke Israel memperkuat kesan bahwa Washington ikut menopang eskalasi, bukan sekadar memberi dukungan diplomatik.
Sejumlah negara Eropa mulai menolak ikut agenda perang AS-Israel. Penolakan hak lintas udara, pembatasan pangkalan, dan penutupan wilayah udara menunjukkan adanya resistensi terbuka dari sekutu sendiri.
Korban sipil dan krisis kemanusiaan terus membesar. Angka korban di Gaza dan terganggunya jalur bantuan global membuat kritik terhadap perang ini makin mudah diterima publik internasional.
Trump mengaitkan NATO dengan dukungan terhadap operasi di Timur Tengah. Ini memicu kesan bahwa aliansi pertahanan dipaksa mengikuti agenda geopolitik Washington yang lebih luas.
Eropa mulai menyiapkan kemandirian strategis. Munculnya gagasan “more European NATO” menandakan kepercayaan penuh pada kepemimpinan AS tidak sekuat dulu.(Zaf)
Sumber: Newsmaker.id