Presiden Lebanon Tuding Iran “Jadikan Lebanon Tawar-Menawar”
Presiden Lebanon Joseph Aoun melontarkan kritik keras terhadap Iran pada Jumat (5/6), menuding Teheran menggunakan Lebanon sebagai “alat tawar” dalam negosiasi dengan Amerika Serikat. Dalam wawancara dengan CNN, Aoun mengatakan rakyat Lebanon “membayar harga” demi kepentingan Iran dan sudah “muak” dengan perang antara Israel dan Hezbollah, menggambarkan retakan politik-sektarian yang makin dalam di dalam negeri.
Aoun menyebut praktik itu “tidak bisa diterima”, sekaligus menyoroti bahwa konflik terbaru meletus lebih dari tiga bulan lalu ketika Hezbollah mulai menembakkan roket sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran setelah Teheran diserang AS dan Israel. Hezbollah sendiri merupakan kelompok Syiah yang didirikan pada 1982 dengan dukungan Garda Revolusi Iran, dan tetap menjadi sekutu utama Iran di Lebanon.
Sebagai mantan panglima militer Lebanon dan presiden dari komunitas Maronit Kristen sesuai sistem pembagian kekuasaan sektarian Lebanon, Aoun selama ini mendorong pelucutan senjata Hezbollah secara damai. Ia bahkan sempat menyerukan dialog langsung dengan Israel di awal perang, posisi yang membuatnya berseberangan dengan Hezbollah.
Pernyataan Aoun muncul saat Iran menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai syarat dalam kesepakatan yang lebih luas dengan Washington untuk mengakhiri konflik regional sejak serangan AS-Israel pada 28 Februari. Namun pada Kamis, Hezbollah menolak rencana gencatan yang disusun dalam perundingan yang dimediasi AS di Washington—rencana yang mensyaratkan Hezbollah menghentikan serangan dan menarik pasukan dari Lebanon selatan.
Pemimpin Hezbollah Naim Qassem berdalih kesepakatan Washington ditolak oleh “sebagian besar rakyat Lebanon”. Aoun membalas langsung, “rakyat Lebanon bukan rakyatmu,” memperjelas bahwa pemerintah ingin merebut kembali klaim representasi politik atas masyarakat Lebanon yang selama ini kerap dipakai Hezbollah.
Otoritas Lebanon menyatakan serangan Israel telah menewaskan ribuan orang sejak Maret dan memaksa sekitar 1,2 juta orang mengungsi, sementara pasukan Israel menguasai sebagian wilayah Lebanon selatan. Ketegangan ini meningkatkan tekanan domestik pada Beirut untuk mencari jalan keluar, tetapi juga menambah kompleksitas ketika Lebanon menjadi bagian dari paket negosiasi AS–Iran yang lebih besar.(Arl)
Sumber : Newsmaker.id