Trump Klaim Iran Sudah Melunak, Tapi Hormuz dan Nuklir Masih Jadi Kunci
Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran telah membuat konsesi penting dalam negosiasi untuk mengakhiri perang tujuh pekan, di saat gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon meningkatkan harapan de-eskalasi regional. Trump bahkan menyebut gencatan senjata dengan Iran yang disepakati pada 7 April mungkin tidak perlu diperpanjang sebelum berakhir pekan depan—berbeda dengan ekspektasi sejumlah pemimpin negara Teluk dan Eropa yang menilai proses menuju kesepakatan damai bisa memakan waktu sekitar enam bulan.
Trump mengatakan Teheran “ingin membuat kesepakatan” dan kini bersedia melakukan hal-hal yang tidak mereka lakukan dua bulan lalu, serta menyebut pengumuman dapat datang “segera”. Namun Iran belum merespons klaim konsesi tersebut, termasuk terkait isu program nuklir. Trump kembali menegaskan Iran “tidak akan punya senjata nuklir” dan menolak gagasan moratorium pengayaan uranium berbatas waktu sebagai sesuatu yang bisa dinegosiasikan.
Optimisme Trump tetap memberi dukungan pada aset berisiko, meski pasar mulai menahan posisi menjelang akhir pekan. Wall Street mencetak rekor pada Kamis, sementara MSCI All Country World Index turun 0,1% pada Jumat setelah reli 10 hari yang membawanya ke level tertinggi. Di komoditas, Brent turun 1,3% ke US$98,10 per barel, tetapi masih naik lebih dari sepertiga dibanding sebelum perang. Pada saat yang sama, harga fisik tetap menunjukkan keketatan pasokan: Dated Brent berada di sekitar US$116 per barel, mencerminkan kelangkaan barel jangka pendek di tengah penutupan efektif Hormuz.
Gencatan senjata Israel–Lebanon yang diumumkan Trump disebut bertahan hingga Jumat. Meski pengumuman tidak menyebut Hezbollah, kelompok yang didukung Iran itu dilaporkan berhenti menembakkan roket ke Israel semalam. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi kesepakatan tersebut dan menyebutnya langkah menuju perdamaian yang lebih luas, sementara Trump mengatakan pejabat AS akan bekerja dengan kedua pihak untuk mengamankan kesepakatan yang bertahan lama. Namun perang di Lebanon telah menimbulkan korban besar—otoritas Lebanon menyebut lebih dari 2.000 orang tewas dan lebih dari satu juta mengungsi—membuat risiko eskalasi tetap sensitif.
Bagi pasar energi, Selat Hormuz tetap menjadi titik penentu. Jalur ini sebelumnya menyalurkan sekitar seperlima minyak dan LNG global, dan gangguan berlarut memicu kekhawatiran perlambatan serta tekanan inflasi. Ketegangan di Hormuz kini bertumpu pada blokade angkatan laut AS yang bertujuan mencegah minyak Iran mencapai pasar global, serta tuntutan Iran untuk tetap memungut biaya transit kapal bahkan setelah perang berakhir. Sejumlah pemimpin Teluk dan Eropa mendorong pembukaan segera, dan memperingatkan risiko krisis yang lebih luas jika selat tetap tersumbat melampaui bulan depan.
Di Eropa, Inggris dan Prancis disebut akan menjadi tuan rumah pertemuan sekitar 40 negara untuk membahas pembentukan pasukan laut multinasional guna mengamankan Hormuz, meski pengerahan dinilai kecil kemungkinan terjadi sebelum ada kesepakatan yang lebih komprehensif. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan pasukan AS siap kembali beroperasi “dengan menekan tombol”, sementara Iran memperingatkan blokade yang berkepanjangan dapat melanggar gencatan senjata.
Pakistan tetap berada di pusat jalur mediasi. Kepala angkatan darat Pakistan Asim Munir disebut melakukan kunjungan ke Iran pekan ini setelah Pakistan menjadi tuan rumah pembicaraan tingkat tinggi AS–Iran akhir pekan lalu yang belum menghasilkan terobosan. Trump juga menyebut ia “mungkin” pergi ke Pakistan jika kesepakatan tercapai, namun komentar dari pejabat AS dan Iran menunjukkan jarak posisi masih lebar, terutama soal nuklir, Hormuz, serta cakupan gencatan senjata yang menurut Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf harus mencakup Lebanon.
Pasar kini menunggu apakah gencatan senjata 7 April benar-benar dapat dibiarkan berakhir tanpa perpanjangan, seberapa cepat arus Hormuz bisa dipulihkan, dan apakah paket “memorandum sementara” yang dibahas dapat menahan perang agar tidak berulang. Variabel yang akan dipantau meliputi sinyal kompromi soal pengayaan uranium, status blokade dan biaya transit Hormuz, disiplin gencatan senjata di Lebanon, serta agenda lanjutan mediasi Pakistan menjelang jatuh tempo pekan depan. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id