Tiga Opsi Trump di Iran, Risiko Minyak Belum Selesai!
RBC Capital Markets menilai Presiden AS Donald Trump kini memiliki tiga jalur utama terkait perang dengan Iran, dan jika konflik berlangsung lebih lama, harga minyak berpotensi terus meningkat. Kerangka skenario ini menggambarkan bagaimana keputusan Washington akan menentukan apakah premi risiko energi akan dikurangi atau justru menguat.
Skenario pertama adalah “U-turn”: AS dapat memilih mundur atau mengurangi intensitas, namun konsekuensinya Iran berpeluang mengoperasikan apa yang disebut RBC sebagai “Hormuz EZ Pass” yang semakin menguntungkan. Dalam jalur ini, arus kapal melalui Selat Hormuz diperkirakan tetap di bawah tingkat sebelum perang.
RBC menilai kondisi tersebut kemungkinan tidak akan diterima oleh Israel maupun negara-negara tetangga. Artinya, meskipun eskalasi peredaman, ketegangan politik dan keamanan di kawasan dapat bertahan, sehingga pemulihan aliran energi pun tidak berjalan normal.
Skenario kedua adalah eskalasi. RBC mencatat kekuatan memberi sinyal AS “mungkin” berupaya membuka kembali Selat Hormuz atau merebut pusat ekspor di Pulau Kharg. Namun RBC tekanan tidak ada jaminan peningkatan pasukan akan menghasilkan kemenangan cepat.
Menurut RBC, Iran dapat mengandalkan doktrin “survive-and-exhaust”, yaitu bertahan dan menguras lawan, yang berisiko memperpanjang konflik sekaligus mempertahankan gangguan pasokan. Dalam skenario ini, volatilitas minyak cenderung tetap tinggi karena pasar menilai risiko kerusakan dan hambatan logistik yang lebih persisten.
Skenario ketiga adalah negosiasi yang mengutamakan kebebasan navigasi di perairan Timur Tengah. Namun RBC menyebut opsi ini tidak terlihat sebagai pilihan yang paling disukai pada tahap saat ini, sehingga cenderung memberi bobot lebih besar pada dua skenario lainnya.
RBC juga menyoroti masuknya Houthi ke konflik. Sejauh ini, mereka baru menargetkan Israel secara langsung, namun telah memberi peringatan terkait potensi ancaman terhadap Bab al-Mandeb. Ini menambah lapisan risiko jalur pelayaran di luar Hormuz dan memperluas titik rawan rantai pasok energi.
Ke depan, jika skenario eskalasi atau konflik berkepanjangan lebih dominan, premi risiko minyak cenderung bertahan atau meningkat. Dalam kondisi risk-off, dolar berpotensi tetap ditopang arus lindung nilai. Sementara emas bisa mendapat dorongan defensif, tetapi sensitivitas pasar terhadap jalur suku bunga dan inflasi energi dapat membuat respons emas tidak selalu linier, sehingga arah pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh apakah pasar menilai risiko perang lebih besar daripada tekanan dari ekspektasi kebijakan moneter.(asd)
Sumber: Newsmaker.id