Vance Jadi Penentu: Upaya Batasi Trump di Venezuela Kandas
Tekanan politik Donald Trump di Senat berbuah hasil: mayoritas Partai Republik kompak menghentikan resolusi yang ingin membatasi aksi militer lanjutan AS di Venezuela. Voting berjalan ketat sampai Wakil Presiden JD Vance turun tangan memecah suara imbang—dan sejak itu, peluang resolusi untuk maju praktis mati.
Langkah ini muncul setelah operasi AS yang berujung pada penangkapan Nicolás Maduro dan istrinya dalam penggerebekan malam awal bulan ini. Sejumlah senator sempat protes karena Kongres dinilai tidak diajak konsultasi sebelum operasi dijalankan, sehingga muncul dorongan untuk “menarik rem” lewat mekanisme War Powers.
Pekan lalu, beberapa senator Republik sempat ikut meloloskan tahap awal resolusi. Tapi setelah Trump melakukan lobi agresif lewat telepon dan tekanan publik, dua senator yang sebelumnya mendukung akhirnya balik arah, ikut memilih memblokirnya—membuktikan betapa mahalnya “berseberangan” dengan Trump di internal partai.
Kubu Republik beralasan resolusi itu tidak mendesak karena AS diklaim tidak sedang terlibat dalam permusuhan yang berlangsung, sehingga jalur War Powers dianggap bisa disisihkan. Demokrat menilai sebaliknya: tanpa pembatasan, Gedung Putih bisa memperluas operasi tanpa mandat jelas dari Kongres.
Hasilnya mengirim sinyal keras: kontrol politik terhadap agenda militer Trump makin lemah, dan peta kebijakan luar negeri AS bisa bergerak cepat tanpa banyak hambatan. Buat pasar, ini biasanya berarti satu hal—risiko geopolitik tetap “nyala” dan headline bisa sewaktu-waktu mengguncang sentimen.
Inti poin:
- Resolusi pembatasan aksi militer AS di Venezuela diblok; JD Vance jadi pemecah suara imbang.
- Pemicu: operasi yang menangkap Nicolás Maduro dan memicu kritik soal minimnya konsultasi ke Kongres.
- Trump menekan senator GOP yang sempat mendukung resolusi—sebagian akhirnya berbalik.
- Alasan pemblokiran: AS disebut tidak dalam “permusuhan berlangsung”, jadi War Powers dianggap tidak tepat.
- Dampak: sinyal kontrol Kongres melemah, risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan naik membuat harga logam mulia dan minyak naik.(asd)
Sumber: Newsmaker.id