• Tue, Mar 3, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

3 March 2026 16:12  |

Perang Iran: Ujian Ekonomi Eropa

Empat pekan ke depan dipandang krusial bagi arah pemulihan ekonomi Eropa, menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik setelah serangan AS di bawah Presiden Donald Trump terhadap Iran. Sejumlah analis menilai, bila eskalasi cepat mereda, dampaknya berpeluang terbatas sebagai gangguan sementara. Namun, apabila konflik berkembang menjadi kampanye berkepanjangan, risiko terhadap pertumbuhan zona euro—yang baru mulai membaik—akan meningkat signifikan.

Skenario perang yang lebih lama berpotensi menghidupkan kembali tekanan inflasi melalui kanal energi. ECB sendiri menegaskan bahwa guncangan eksternal—khususnya lonjakan harga energi akibat peristiwa geopolitik—menjadi salah satu sumber risiko utama terhadap prospek inflasi. Dalam laporan terbaru, Chief Economist ECB Philip Lane memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat mendorong inflasi zona euro naik sekaligus menekan aktivitas ekonomi, terutama jika harga minyak melonjak dan bertahan tinggi.

Dampaknya sudah tercermin pada pasar: harga gas Eropa melonjak tajam setelah kabar gangguan pasokan LNG dari Qatar, sementara pasar saham melemah karena investor kembali ke mode risk-off. Lonjakan biaya energi memperburuk prospek daya beli rumah tangga dan margin industri, serta mengangkat risiko “inflasi impor” yang membuat jalur penurunan suku bunga menjadi lebih berhati-hati. Dalam kondisi demikian, aset defensif cenderung diburu, volatilitas meningkat, dan sektor-sektor sensitif energi—seperti transportasi dan manufaktur—berpotensi menjadi yang paling tertekan.

Jika harga minyak dan gas bertahan tinggi, pemerintah Eropa dapat terdorong memperluas belanja kompensasi untuk meredam kenaikan biaya hidup—langkah yang secara politik penting namun berisiko menambah beban fiskal. ECB sebelumnya menekankan bahwa dukungan fiskal idealnya bersifat sementara dan lebih terarah agar tidak memperpanjang tekanan inflasi. Bagi pasar, kombinasi energi mahal + belanja pemerintah yang membesar dapat menahan penurunan yield di level rendah, memperlebar premi risiko, serta membuat pemulihan aset berisiko di Eropa tetap rapuh sampai ada kejelasan apakah eskalasi mereda dalam hitungan minggu atau justru berlarut. (Arl)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

GLOBAL ECONOMY

Trump Berjanji untuk 'Segera' Bernegosiasi untuk Mengakhiri ...

Presiden Donald Trump mengumumkan pada hari Rabu bahwa ia dan pemimpin Rusia sepakat melalui panggilan telepon untuk "segera"...

13 February 2025 12:25
GLOBAL ECONOMY

Nonfarm Payrolls AS Naik 143.000 Pada Januari Vs. 170.000 Ya...

Nonfarm Payrolls (NFP) di AS naik 143.000 pada Januari, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan pada hari Jumat. Angk...

7 February 2025 20:40
GLOBAL ECONOMY

Kanada Akan Mengumumkan Tarif Balasan Senilai C$29,8 Miliar ...

Kanada akan mengumumkan tarif balasan senilai C$29,8 miliar terhadap Amerika Serikat pada hari Rabu (12/3) sebagai tanggapan ...

12 March 2025 18:54
GLOBAL ECONOMY

Tiongkok Tegaskan AS Harus Membatalkan Tarif Sebelum Pembica...

Beijing menegaskan kembali seruannya kepada AS untuk membatalkan tarif sepihak terhadap Tiongkok, menggarisbawahi kebuntuan a...

8 May 2025 16:16
BIAS23.com NM23 Ai