Hormuz Nyaris Macet, Minyak Terbang
Harga minyak melonjak tajam ketika dampak awal perang di Timur Tengah mulai terasa nyata: lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz nyaris berhenti, sementara gangguan pada fasilitas energi—termasuk kilang besar di Arab Saudi—ikut mengguncang pasar. Kondisi ini memicu lonjakan premi risiko pasokan dan membuat pasar energi bergerak sangat volatil.
Kontrak berjangka Brent ditutup naik sekitar 6,7% ke area US$78 per barel, menjadi kenaikan harian terbesar sejak Juni 2025. Setelah penutupan, Brent masih sempat melanjutkan penguatan usai pernyataan juru bicara Garda Revolusi Iran (IRGC) yang—menurut media pemerintah—menegaskan Iran tidak akan membiarkan minyak keluar dari kawasan. Di sisi produk olahan, kontrak berjangka diesel—yang sering disebut “mesin” ekonomi global—ditutup di level tertinggi hampir empat tahun.
Dari Washington, sinyal durasi konflik juga terdengar tidak seragam. Presiden Donald Trump menyebut perang diproyeksikan berlangsung empat hingga lima minggu, namun menambahkan AS siap bertempur lebih lama jika diperlukan. Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menolak gagasan perang “tanpa akhir”. Sementara itu, pejabat keamanan Iran menyatakan negosiasi tidak akan dilakukan, menambah ketidakpastian arah konflik.
Perang ini menandai fase baru yang berbahaya bagi Timur Tengah dan pasar minyak global. Iran memang hanya memompa sekitar 3,3 juta barel per hari (sekitar 3% output global), tetapi pengaruhnya besar karena letak strategisnya di dekat Selat Hormuz. Jalur ini menjadi “leher botol” bagi pasokan energi: minyak dari Teluk Persia harus melewati Hormuz untuk mencapai pasar utama seperti China, India, dan Jepang. Selat tersebut menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia dan porsi serupa untuk LNG.
Sejumlah lembaga memperingatkan, bila konflik memanjang, harga minyak bisa masuk ke “angka tiga digit”. Ada estimasi bahwa penutupan Hormuz selama sekitar 25 hari dapat membuat tangki penyimpanan negara produsen penuh, memaksa pemangkasan produksi. Pasar asuransi pun disebut sedang pontang-panting menghitung ulang harga risiko, karena ancaman keamanan pelayaran meningkat dan banyak pemilik kapal memilih menahan rute.
Dampak fisik ke aset energi mulai terlihat. Saudi Aramco disebut menghentikan operasi di kilang Ras Tanura setelah serangan drone di area tersebut, meski aliran minyak mentah dari pelabuhan terdekat masih berjalan. Di Eropa, harga LNG melonjak setelah Qatar menghentikan output di fasilitas ekspor LNG terbesar dunia pasca serangan drone. Di perairan, kapal tanker berbendera AS yang terlibat dalam program suplai bahan bakar militer dilaporkan terkena serangan, dan beberapa kapal lain juga menjadi target—mendorong otoritas menyebut ancaman berada pada level “kritis” dan makin banyak kapal memilih tidak melintas.
Meski reli minyak ini merupakan yang terbesar sejak awal 2022, arah berikutnya tetap tidak pasti. Salah satu alasan harga tidak melonjak lebih ekstrem adalah pasar minyak sebelumnya relatif “cukup pasokan” selama sekitar setahun terakhir. Namun risiko suplai bertambah dari sisi lain: pemuatan dihentikan di terminal minyak Rusia setelah serangan drone Ukraina. Di tengah kondisi itu, OPEC+ menyepakati kenaikan kuota produksi bulan depan sebesar 206.000 barel per hari, meski efektivitasnya bisa terbatas jika jalur pengapalan utama tetap terganggu.
Pada penutupan perdagangan, Brent untuk penyelesaian Mei tercatat naik 6,7% ke US$77,74/barel di New York, setelah sebelumnya sempat menyentuh US$82,37. Sementara WTI untuk pengiriman April naik 6,3% ke US$71,23/barel.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id