Beige Book: Inflasi Energi Menguat, Tenaga Kerja Stabil dan Sentimen Mulai Retak
Federal Reserve melaporkan lapangan kerja relatif stabil dalam beberapa pekan terakhir, sementara tekanan inflasi meningkat di banyak wilayah AS terutama akibat lonjakan biaya energi yang terkait perang di Timur Tengah. Dalam Beige Book yang dirilis Rabu (3/6), aktivitas ekonomi secara umum tumbuh pada laju ringan hingga moderat di 10 dari 12 distrik, berdasarkan survei kontak bisnis regional yang dikumpulkan hingga 27 Mei.
The Fed mencatat biaya terkait energi menjadi pendorong utama tekanan harga, dengan efek rambatan ke ongkos pengiriman, kemasan, bahan pangan, dan pupuk. Sejumlah distrik juga menyoroti ketidakpastian konsumen dan kekhawatiran soal harga bahan bakar yang menekan rumah tangga—indikasi bahwa shock energi mulai terasa di perilaku belanja.
Meski pertumbuhan masih bertahan di tengah kenaikan biaya, Beige Book menunjukkan bisnis mulai khawatir soal melemahnya sentimen pelanggan. Prospek enam bulan ke depan dilaporkan relatif tidak banyak berubah, tetapi ketidakpastian tinggi dan tanda-tanda pelemahan belanja konsumen mulai membebani keyakinan pelaku usaha.
Dari sisi ketenagakerjaan, pola “low-hire, low-fire” masih dominan: perekrutan selektif dan lebih banyak untuk posisi kritis atau mengganti karyawan yang keluar. Namun, manufaktur terlihat lebih kuat di beberapa distrik, didukung aktivitas terkait pertahanan dan meningkatnya permintaan pusat data—tema yang sejalan dengan belanja infrastruktur teknologi.
Laporan ini datang saat inflasi PCE tahunan AS berada di 3,8% hingga April, tertinggi sejak 2023, dan pasar menunggu laporan tenaga kerja pada Jumat untuk petunjuk berikutnya. Investor saat ini memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada rapat 16–17 Juni, namun kontrak futures sudah mem-price-in kenaikan 25 bps paling lambat Maret tahun depan.
Rapat Juni juga akan menjadi pertemuan kebijakan pertama di bawah Ketua baru The Fed, Kevin Warsh, sehingga narasi Beige Book soal inflasi energi yang “menular” dan sentimen konsumen yang mulai rapuh berpotensi menjadi bahan penting dalam komunikasi kebijakan, terutama tentang seberapa lama suku bunga perlu tetap restriktif. (arl)
Sumber: Newsmaker.id