• Thu, Jul 9, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

9 July 2026 12:31  |

Prediksi Harga Minyak Bulan Juli, Menentukan Arah Inflasi, Emas dan Dolar

Harga minyak diperkirakan masih bergerak panas sepanjang Juli, seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar energi global kini kembali menaruh perhatian besar pada Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi pintu utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia ke pasar dunia.

Kenaikan harga minyak saat ini lebih banyak didorong oleh risiko geopolitik dibandingkan kekuatan permintaan. Serangan baru AS ke Iran, respons militer dari Teheran, serta ancaman terhadap jalur pelayaran membuat investor mulai memasukkan kembali premi risiko ke harga minyak. Artinya, harga bergerak naik bukan semata-mata karena konsumsi meningkat, tetapi karena pasar khawatir pasokan terganggu.

Secara fundamental, kondisi ini membuat minyak berada dalam posisi sensitif. Jika lalu lintas kapal di Selat Hormuz kembali melambat atau perusahaan pelayaran mulai menghindari jalur tersebut, harga minyak berpotensi bertahan tinggi. Namun, apabila muncul sinyal negosiasi atau arus pengiriman kembali normal, sebagian kenaikan harga bisa cepat terkoreksi karena faktor ketakutan mulai mereda.

Dari sisi teknikal, Brent kini berada di area penting sekitar US$78–80 per barel. Level US$80 menjadi batas psikologis yang perlu diperhatikan pasar. Jika Brent mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan menuju US$82 hingga US$85 masih terbuka. Namun, jika gagal menembus area itu, tekanan profit taking bisa membawa harga kembali ke zona US$76 hingga US$75.

Untuk bulan Juli, skenario utama minyak masih cenderung bullish terbatas dengan volatilitas tinggi. Brent berpotensi bergerak di kisaran US$76–83 per barel, sementara WTI berpeluang berada di area US$72–78 per barel. Skenario lebih agresif bisa terjadi jika konflik semakin meluas atau Selat Hormuz benar-benar terganggu, yang dapat mendorong Brent menuju US$85 hingga US$90.

Meski begitu, pelaku pasar tetap perlu berhati-hati karena kenaikan minyak saat ini belum sepenuhnya mencerminkan permintaan yang kuat. Harga lebih banyak ditopang oleh ketegangan perang dan risiko pasokan. Karena itu, arah minyak pada Juli akan sangat bergantung pada perkembangan konflik AS-Iran, kondisi Selat Hormuz, serta apakah pasar melihat situasi ini sebagai krisis besar atau hanya lonjakan sementara akibat headline geopolitik.(asd)*

Sumber: Newsmaker.id

Related News

ANALYSIS & OPINION

Jenewa Hari Ini: AS–Iran: Satu Berita Utama Dapat Menggunc...

Putaran kedua pembicaraan nuklir AS–Iran diadakan hari ini di Jenewa, Swiss, dengan saluran komunikasi dimediasi oleh Oman....

17 February 2026 10:34
ANALYSIS & OPINION

Sikap Hati-Hati Investor Lemahkan Emas

Para pejabat The Fed tadi malam mengatakan bahwa mereka masih tetap bersabar untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 4,25%...

29 May 2025 09:18
ANALYSIS & OPINION

$5.000 Ditembus! Investor Kabur dari Dolar & Obligasi

Harga emas menembus $5.000 per ons dan mencetak rekor baru di awal pekan, saat investor berbondong-bondong mencari aset aman ...

26 January 2026 11:35
ANALYSIS & OPINION

Prospek 2026: 4 Aset, 1 Pertanyaan Besar—Risk On atau Risk...

Arah pasar keuangan global pada 2026 diperkirakan ditentukan oleh kombinasi pertumbuhan ekonomi yang melambat, tren penurunan...

28 December 2025 12:20
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai