Minyak Naik Lagi, Serangan AS ke Iran Guncang Pasar
Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Kamis (08/7) setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran untuk hari kedua berturut-turut. Eskalasi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah, terutama di sekitar Selat Hormuz.
Brent naik hingga 1,5% ke atas US$79 per barel setelah sebelumnya melonjak lebih dari 5% pada Rabu. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI bergerak di sekitar US$74 per barel. Pada pukul 11.24 waktu Singapura, Brent untuk pengiriman September naik 1,2% ke US$78,94 per barel, sedangkan WTI untuk pengiriman Agustus menguat 1,2% ke US$74,40 per barel.
Komando Pusat AS atau CENTCOM menyatakan serangan tambahan dilakukan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke pangkalan AS di kawasan tersebut, termasuk laporan serangan ke Kuwait dan Bahrain.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan bahwa kesepakatan damai sementara dengan Iran sudah berakhir. Ia juga membuka kemungkinan untuk kembali menerapkan blokade terhadap pelabuhan Iran dan memperingatkan bahwa harga minyak bisa naik lebih jauh jika konflik terus berlanjut.
Selat Hormuz kini menjadi pusat perhatian pasar energi global. Jalur ini menghubungkan produsen minyak Teluk Persia dengan pasar dunia. Data pelacakan kapal menunjukkan lalu lintas melalui Hormuz mulai menurun, dengan pergerakan kapal lebih banyak terjadi di rute yang disetujui Iran, sementara koridor yang didukung AS terlihat lebih sepi.
Analis memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz kembali tertutup, harga minyak berpotensi naik lebih jauh. Namun, jika aliran minyak tetap berjalan, ruang kenaikan harga bisa lebih terbatas. Pasar juga mencermati stok energi AS, setelah persediaan strategis terus menurun dan cadangan bensin berada di level musiman terendah sejak 2012.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id