• Tue, Mar 31, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

31 March 2026 12:15  |

Damai Semu, Harga Tetap Panas!

Sinyal de-eskalasi perang dari Donald Trump memberi napas pendek bagi pasar, tetapi belum cukup kuat untuk menghapus rasa takut investor. Laporan terbaru menyebut Trump bersedia mengakhiri kampanye militer terhadap Iran bahkan jika Selat Hormuz belum sepenuhnya dibuka, dan headline itu langsung dibaca pasar sebagai peluang meredanya eskalasi. Namun, pasar juga sadar bahwa ini baru sinyal politik, bukan penyelesaian nyata di lapangan. Selama jalur energi paling vital di dunia masih terganggu, de-eskalasi yang muncul lebih tepat disebut sebagai “cooling of tone” ketimbang perdamaian yang benar-benar solid.

Reaksi paling cepat terlihat di pasar minyak. Setelah sebelumnya melonjak tajam akibat premi perang dan kekhawatiran gangguan pasokan, harga oil sempat turun sekitar 1% di sesi Asia usai kabar Trump tersebut muncul. Reuters mencatat Brent turun ke sekitar US$111,56 per barel dan WTI ke kisaran US$101,90, menandakan bahwa sebagian pelaku pasar mulai melepas posisi defensif ketika peluang perang berkepanjangan terlihat sedikit mereda. Meski begitu, koreksi ini lebih mencerminkan pengurangan panic premium, bukan perubahan mendasar pada risiko pasokan global. Dengan kata lain, pasar minyak turun karena tensinya sedikit berkurang, bukan karena problem energinya sudah selesai.

Yang membuat oil tetap sensitif adalah fakta bahwa masalah utamanya masih belum terselesaikan: arus energi melalui Hormuz belum pulih normal. Jalur ini sangat krusial bagi perdagangan minyak global, dan pasar memahami bahwa tanpa pembukaan penuh Hormuz, pasokan tetap berisiko terganggu. Reuters juga melaporkan serangan terhadap kapal tanker di dekat Dubai serta pengalihan rute ekspor Saudi, yang menegaskan bahwa risiko logistik dan keamanan masih nyata. Karena itu, walaupun headline de-eskalasi menekan harga sementara, ruang penurunan oil masih terbatas selama gangguan fisik terhadap rantai suplai energi belum benar-benar hilang.

Di pasar mata uang, dampaknya ke dolar cenderung lebih kompleks. Secara intraday, DXY sempat melemah dari puncak tertinggi tahun ini dan bergerak di bawah 100,50 karena harapan de-eskalasi mengurangi sebagian permintaan safe haven. Tetapi pelemahan itu tidak agresif, sebab pasar masih menilai lonjakan harga energi berpotensi menjaga inflasi tetap tinggi dan membuat Federal Reserve sulit cepat beralih dovish. Reuters mencatat dolar justru membukukan kenaikan bulanan sekitar 2,9% pada Maret, yang menjadi penguatan bulanan terbesarnya sejak Juli 2025. Jadi, untuk saat ini dolar tertahan antara dua kekuatan: kabar damai yang menekan permintaan aman, dan ancaman inflasi energi yang menopang ekspektasi suku bunga lebih tinggi lebih lama.

Emas bergerak dengan pola yang juga tidak sederhana. Secara teori, kabar de-eskalasi mestinya menekan emas karena kebutuhan hedging geopolitik berkurang. Namun realitas pasar menunjukkan emas justru masih mampu naik harian, dengan Reuters mencatat spot gold menguat sekitar 1,1% ke kisaran US$4.561,68 per ounce pada Selasa. Ini menunjukkan bahwa investor belum benar-benar keluar dari mode perlindungan. Ada dua alasan utama: pertama, konflik belum benar-benar selesai; kedua, pasar masih melihat risiko ekonomi global dari guncangan energi. Meski begitu, tekanan terhadap emas belum hilang, karena dolar yang kuat dan memudarnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed membuat kenaikan emas tidak lepas dan tetap rentan tertahan.

Di sinilah hubungan emas, oil, dan dolar menjadi sangat penting untuk dibaca secara bersamaan. Oil yang melonjak mendorong kekhawatiran inflasi global, inflasi yang lebih tinggi mengurangi peluang penurunan suku bunga, dan kondisi itu menopang dolar. Dolar yang kuat pada akhirnya menjadi beban bagi emas, meski emas tetap dicari sebagai aset lindung nilai saat konflik memanas. Artinya, emas sekarang tidak sedang bergerak dalam lingkungan safe haven yang “bersih”, melainkan dalam pasar yang terbelah antara kebutuhan perlindungan geopolitik dan tekanan moneter dari energi mahal. Karena itu, pergerakan emas belakangan cenderung choppy: naik karena risiko perang, tetapi tertahan karena pasar suku bunga kembali lebih hawkish.

Ke depan, pandangannya masih condong volatil. Untuk oil, selama Hormuz belum pulih penuh, harga masih berpotensi bertahan tinggi dan mudah melonjak lagi setiap kali muncul serangan baru, sehingga zona US$100+ untuk WTI dan kisaran di atas US$110 untuk Brent masih sangat masuk akal dalam jangka dekat. Untuk gold, peluang rebound tetap terbuka bila pasar kembali ragu pada proses damai atau jika konflik berubah menjadi krisis energi yang lebih panjang, tetapi kenaikannya kemungkinan tidak lurus karena dolar dan ekspektasi suku bunga masih menjadi penghambat utama. Dengan kata lain, outlook terdekatnya adalah oil tetap bias bullish secara struktural, sementara emas cenderung bullish-volatile: kuat saat ketegangan naik, namun rawan koreksi setiap kali pasar membaca headline damai sebagai langkah maju yang kredibel.(asd)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

ANALYSIS & OPINION

Jenewa Hari Ini: AS–Iran: Satu Berita Utama Dapat Menggunc...

Putaran kedua pembicaraan nuklir AS–Iran diadakan hari ini di Jenewa, Swiss, dengan saluran komunikasi dimediasi oleh Oman....

17 February 2026 10:34
ANALYSIS & OPINION

Sikap Hati-Hati Investor Lemahkan Emas

Para pejabat The Fed tadi malam mengatakan bahwa mereka masih tetap bersabar untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 4,25%...

29 May 2025 09:18
ANALYSIS & OPINION

$5.000 Ditembus! Investor Kabur dari Dolar & Obligasi

Harga emas menembus $5.000 per ons dan mencetak rekor baru di awal pekan, saat investor berbondong-bondong mencari aset aman ...

26 January 2026 11:35
ANALYSIS & OPINION

Prospek 2026: 4 Aset, 1 Pertanyaan Besar—Risk On atau Risk...

Arah pasar keuangan global pada 2026 diperkirakan ditentukan oleh kombinasi pertumbuhan ekonomi yang melambat, tren penurunan...

28 December 2025 12:20
BIAS23.com NM23 Ai