Logan The Fed : Buka Peluang Hike Rate, Jika Inflasi Belum Balik ke 2%
Presiden Federal Reserve Bank of Dallas Lorie Logan mengatakan The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga akhir tahun ini untuk membawa inflasi kembali ke target 2%. Dalam acara di El Paso, Texas pada Rabu (3/6), Logan menilai pasar tenaga kerja “cukup seimbang”, investasi AI sedang booming, dan kondisi keuangan masih “longgar”, sehingga kebijakan moneter saat ini belum cukup menahan ekonomi.
Logan menekankan inflasi terlihat belum bergerak kembali ke 2% dan berisiko “mengakar” bila bertahan terlalu lama. Ia mengatakan menjaga ekspektasi inflasi tetap terjangkar penting, karena jika publik mulai percaya inflasi akan tinggi terus, biaya mengendalikannya bisa makin besar.
Pernyataan Logan muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran di internal The Fed bahwa inflasi—yang sudah di atas target lebih dari lima tahun—mulai kembali menguat. Perang Iran disebut ikut menambah tekanan lewat kenaikan harga energi akibat pasokan yang menipis, sementara harga lain seperti sewa dan makanan juga naik. Inflasi PCE favorit The Fed tercatat 3,8% YoY hingga April.
Logan termasuk pejabat yang lebih hawkish dalam komunikasi. Ia menolak bahasa pernyataan The Fed pada April yang mengarah bahwa langkah berikutnya lebih mungkin pemangkasan daripada kenaikan, dan memilih bahasa yang lebih netral karena ingin menjaga opsi kenaikan tetap terbuka jika inflasi tak turun sesuai harapan.
Di hari yang sama, Presiden Fed New York John Williams mengambil nada berbeda: ia menilai kebijakan saat ini “sudah pas” dan tidak melihat kebutuhan menaikkan atau menurunkan suku bunga saat ini, serta menyebut arah ke depan belum jelas. Kontras ini menunjukkan pasar masih menghadapi The Fed yang sangat data-dependent, terutama di tengah shock energi.
Logan juga menyinggung pengukuran inflasi yang “menyaring” komponen volatil. Ia memperingatkan ukuran trimmed mean milik Dallas Fed—yang sempat dipuji Ketua The Fed Kevin Warsh—kemungkinan memberi angka terlalu rendah karena faktor teknis. Secara keseluruhan, Logan menilai inflasi cenderung menuju “pertengahan 2%”, namun belum kembali ke 2%, sehingga ruang untuk pengetatan tambahan tetap terbuka bila tekanan harga tidak mendingin.(arl)
Sumber: Newsmaker.id