Deal Iran–AS: Emas atau Oil yang Meledak Duluan?
Pertemuan nuklir Iran–AS di Jenewa pada Selasa menjadi salah satu katalis paling sensitif minggu ini bagi harga minyak dan emas. Walau pasar masih menilai peluang “deal cepat” relatif kecil, arah perundingan dapat menggeser premi risiko geopolitik secara signifikan—dan itu langsung tercermin pada dua aset tersebut.
Korelasi utamanya sederhana: minyak paling responsif terhadap isu pasokan dan jalur distribusi energi, sementara emas paling responsif terhadap risiko sistemik dan permintaan safe haven. Ketika tensi meningkat (ancaman serangan, retaliasi, gangguan pasokan), minyak cenderung naik karena premi risiko; emas ikut menguat karena arus perlindungan nilai. Sebaliknya, ketika diplomasi terlihat maju, premi risiko minyak biasanya turun lebih cepat, sementara emas dapat “mendingin” namun tidak selalu turun tajam karena masih ditopang faktor suku bunga dan diversifikasi aset.
Dari sisi minyak, pasar saat ini relatif “menahan napas” di tengah sinyal diplomasi sekaligus peningkatan kesiagaan militer. Reuters melaporkan harga Brent dan WTI cenderung stabil jelang pembicaraan, sementara AS disebut menambah tekanan dengan penempatan aset militer dan menyiapkan opsi operasi bila negosiasi gagal—faktor yang menjaga volatilitas tetap tinggi meski harga terlihat tenang.
Di saat yang sama, ada faktor penyeimbang: OPEC+ mempertimbangkan melanjutkan kenaikan produksi mulai April setelah jeda, dengan alasan kebutuhan musiman dan keyakinan bahwa kekhawatiran “glut” berlebihan. Artinya, jika diplomasi Iran–AS berjalan positif (premi risiko turun) sementara pasokan OPEC+ bertambah, tekanan penurunan pada minyak bisa lebih terasa. Sebaliknya, jika pembicaraan buntu dan tensi naik, premi risiko bisa “mengalahkan” sentimen oversupply dalam jangka pendek.
Untuk emas, jalur transmisinya lebih banyak lewat kombinasi: risiko geopolitik + ekspektasi suku bunga. Data inflasi AS yang lebih lunak baru-baru ini menghidupkan kembali harapan pemangkasan suku bunga, yang secara struktural mendukung emas karena menurunkan opportunity cost memegang aset non-yielding. Namun, perkembangan Iran–AS bisa mengubah kecepatan arus safe haven: eskalasi biasanya mempercepat penguatan emas, sedangkan kemajuan diplomasi cenderung memicu profit taking dan konsolidasi.
Poin-poin yang realistis untuk “dibawa” ke meja kesepakatan (tanpa mengklaim hasil final) biasanya berputar pada: kerangka pembatasan/pengawasan program nuklir, mekanisme pelonggaran sanksi, serta paket insentif ekonomi. Reuters menyebut Iran membuka pembahasan manfaat ekonomi termasuk potensi kerja sama/investasi sektor energi dan pertambangan serta pembelian pesawat—yang bila benar-benar mengarah ke de-eskalasi, cenderung bearish untuk premi risiko minyak dan menahan dorongan safe haven emas.
Kesimpulannya, “pemenang reaksi pertama” biasanya ditentukan oleh headline: deal-progres cenderung menekan minyak lebih cepat (premi risiko turun) sementara emas melemah terbatas; deal-gagal/eskalasi cenderung mengangkat keduanya, dengan minyak lebih eksplosif karena kanal pasokan. Dengan likuiditas pasar Asia yang menipis akibat libur regional, respons harga bisa tampak lebih tajam dari biasanya—sehingga manajemen risiko dan disiplin level menjadi krusial menjelang Selasa.(asd)
Sumber: Newsmaker.id