Emas Tembus 4.600: Bukan Cuma “Safe Haven”, Ini Mesin Utamanya
Harga emas kembali bikin pasar kaget setelah menembus area US$4.600 per ons, memperpanjang reli yang sudah berlangsung beberapa sesi terakhir. Kenaikan ini mempertegas satu hal: di tengah campuran risiko politik, ekspektasi suku bunga, dan gejolak geopolitik, emas masih jadi “tempat parkir” favorit investor global.
Pendorong terbesarnya datang dari Amerika Serikat. Pasar makin sensitif terhadap isu independensi bank sentral (The Fed) setelah muncul kabar terkait langkah hukum yang menyeret Ketua The Fed, Jerome Powell. Bagi pelaku pasar, isu ini bukan sekadar headline—ini menyentuh kepercayaan terhadap arah kebijakan suku bunga. Saat rasa percaya goyang, investor cenderung mengurangi eksposur di dolar dan mencari aset yang dianggap lebih aman.
Dari sisi data ekonomi, rilis tenaga kerja AS juga ikut memberi “ruang” bagi emas untuk lanjut menguat. Angkanya tidak cukup kuat untuk mematikan peluang pemangkasan suku bunga, tapi juga tidak cukup buruk untuk memicu panik resesi. Kombinasi ini biasanya menciptakan kondisi ideal bagi emas: ekspektasi rate cut masih hidup, sementara permintaan aset lindung nilai tetap jalan.
Selain faktor ekonomi, premi risiko geopolitik ikut mengangkat harga. Situasi Iran yang memanas memperkuat sentimen perlindungan aset, apalagi ketika pasar energi juga bereaksi—minyak menguat karena kekhawatiran gangguan pasokan. Dalam kondisi seperti ini, emas sering jadi pilihan utama untuk mengantisipasi skenario “headline risk” yang bisa muncul kapan saja.
Dari sisi arus permintaan, pembelian oleh bank sentral dan investor institusi masih dinilai kuat. Ini membuat reli emas tidak hanya bergantung pada sentimen harian, tapi punya “bantalan” struktural yang menopang harga saat terjadi koreksi-koreksi kecil.
Secara teknikal, area 4.600 punya arti penting karena menjadi level psikologis dan titik yang sering memicu order otomatis. Ketika harga menembus level bulat seperti ini, biasanya ada dua efek yang terjadi bersamaan: buyer breakout masuk karena melihat tren kuat, dan short-covering terjadi karena posisi yang melawan tren terpaksa ditutup. Itulah kenapa pergerakan setelah tembus level bulat sering terasa cepat.
Untuk peta intraday, 4.600 kini berpotensi berubah fungsi menjadi support baru jika harga mampu bertahan di atasnya. Area yang biasanya dipantau trader setelah lonjakan adalah retest 4.600, lalu zona 4.570–4.560 sebagai support terdekat jika terjadi tarik-mundur. Di bawah itu, 4.520–4.500 menjadi area penyangga yang lebih besar—jika level ini jebol tegas, pasar biasanya membaca sebagai koreksi yang lebih dalam, bukan sekadar pullback sehat.
Di sisi atas, selama momentum masih kuat, pasar akan mengincar area 4.620–4.650 sebagai hambatan berikutnya. Jika tembus bersih, target psikologis selanjutnya yang kerap disebut pelaku pasar adalah 4.700. Namun, reli emas yang tajam juga sering diikuti fase “napas” berupa konsolidasi, terutama jika ada komentar pejabat bank sentral atau data inflasi yang mengubah ekspektasi suku bunga.
Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada dua hal: arah dolar dan ekspektasi suku bunga, serta perkembangan risiko geopolitik. Selama dua mesin itu tetap mendukung—dolar cenderung melemah dan ketidakpastian tinggi—emas masih punya alasan kuat untuk bertahan di level tinggi, meski dengan potensi volatilitas yang lebih besar.
5 Poin Inti
Emas menembus area 4.600 didorong kombinasi pelemahan dolar dan naiknya ketidakpastian.
Isu independensi The Fed membuat pasar lebih defensif dan mendukung emas.
Data tenaga kerja AS menjaga peluang rate cut tetap terbuka, menopang harga emas.
Geopolitik (terutama Iran) menambah safe-haven premium.
Secara teknikal, 4.600 jadi level kunci: bertahan di atasnya = bullish lanjut; gagal bertahan = rawan pullback ke area support bawah.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id