USD/CHF Menguat Tipis Saat Pasar Beralih Defensif
USD/CHF mempertahankan penguatan di atas 0,7800 ketika arus “risk-off” mendorong permintaan dolar AS. Pergeseran ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah, yang dalam beberapa sesi terakhir mengembalikan dolar ke peran klasiknya sebagai aset likuiditas utama saat volatilitas naik.
Yang menarik, penguatan dolar terhadap franc berlangsung bersamaan dengan reli franc terhadap euro. Reuters melaporkan franc sempat menguat tajam ke level terkuat terhadap euro sejak 2015, memicu respons verbal dari Swiss National Bank (SNB) yang menegaskan kesiapan untuk menahan apresiasi franc yang dianggap “berlebihan”. Dalam praktiknya, sinyal ini menambah risiko intervensi—yang cenderung membatasi daya tarik franc, khususnya pada pasangan silang tertentu.
Dari sisi transmisi pasar, tema utamanya adalah re-pricing premi risiko energi dan jalur logistik, yang biasanya menguntungkan dolar relatif terhadap mata uang Eropa dan sebagian safe haven lain. Reuters mencatat lonjakan permintaan dolar sejalan dengan eskalasi kawasan, dengan argumen pendukung bahwa AS sebagai pengekspor energi bersih lebih “terlindungi” saat risiko minyak naik dibanding banyak ekonomi pengimpor energi.
Namun, investor perlu membedakan antara level acuan dan harga spot intraday. Data “current exchange rates” SNB menunjukkan 1 USD sekitar 0,7720 per 2 Maret 2026, yang bisa berbeda dari pergerakan spot yang dilaporkan media/market pada sesi berikutnya, terutama saat volatilitas meningkat dan spread melebar.
Ke depan, pasar cenderung memonitor tiga hal untuk membaca daya tahan penguatan USD/CHF: (1) apakah gejolak geopolitik tetap tinggi atau mulai mereda (risk sentiment), (2) arah harga energi dan implikasinya ke inflasi serta ekspektasi suku bunga AS, dan (3) intensitas komunikasi SNB tentang “excessive” franc strength termasuk apakah sinyal tersebut berkembang menjadi aksi pasar valas yang nyata.(Cp)
Sumber: Newsmaker.id