
Trending

usdjpy
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS bergerak melemah pada perdagangan Senin (7/9), dengan Dollar Index turun sekitar 0,23% ke level 98,92. Pelemahan tersebut terjadi meski data tenaga kerja AS yang kuat pekan lalu telah meningkatkan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September. Pasar justru memilih mengurangi posisi dolar menjelang rilis data inflasi AS yang akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan moneter berikutnya.
Tekanan terhadap greenback semakin besar setelah yen Jepang melonjak tajam. Pasangan USD/JPY turun sekitar 1,1% ke 154,52, dari penutupan sebelumnya 156,25, dan sempat menyentuh 154,06. Penguatan yen membawa mata uang Jepang ke level terkuat dalam sekitar tujuh bulan, seiring meningkatnya ekspektasi bahwa Bank of Japan dapat menaikkan suku bunga pada pertemuan 18 September.
Prospek kenaikan bunga BOJ membuat selisih ekspektasi kebijakan moneter antara Jepang dan Amerika Serikat mulai berubah. Investor semakin agresif membeli yen karena memperkirakan BOJ dapat menaikkan suku bunga 25 basis poin bulan ini, sementara arah The Fed masih bergantung pada perkembangan inflasi. Kondisi tersebut membuat dolar sulit mendapatkan keuntungan penuh dari laporan tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan.
Pelemahan dolar juga terjadi di tengah likuiditas yang relatif tipis karena pasar Amerika Serikat libur memperingati Labor Day. Volume perdagangan yang lebih rendah dapat memperbesar volatilitas jangka pendek, terutama ketika pasar sedang menyesuaikan posisi menjelang rangkaian keputusan bank sentral dan data ekonomi penting.
Selain yen, sejumlah mata uang utama lainnya juga menguat terhadap dolar. Euro bergerak menguat menjelang pertemuan European Central Bank pekan ini, sementara pasar memperkirakan ECB akan kembali menaikkan suku bunga. Kombinasi ekspektasi pengetatan BOJ dan ECB membuat tekanan terhadap dolar semakin luas di pasar valuta asing.
Fokus utama investor kini beralih ke data inflasi Amerika Serikat. CPI AS yang akan dirilis pada Jumat diperkirakan menjadi penentu utama ekspektasi terhadap pertemuan The Fed 15–16 September. Pasar saat ini masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 57%, tetapi angka inflasi yang lebih lemah dapat kembali menekan dolar meski pasar tenaga kerja tetap kuat.
Analisa Newsmaker: dolar saat ini berada dalam posisi yang cukup rapuh. Data tenaga kerja yang kuat memang mendukung peluang kenaikan suku bunga The Fed, tetapi faktor tersebut belum cukup untuk mendorong Dollar Index kembali ke atas 99 karena pasar juga menghadapi pengetatan kebijakan dari BOJ dan ECB. Selama indeks dolar bertahan di bawah 99, tekanan turun masih dominan. CPI AS yang kembali panas dapat menjadi katalis bagi rebound greenback, sementara data inflasi yang lebih rendah berpotensi memperpanjang pelemahan dolar dan mendorong USD/JPY semakin turun. (arl)
Sumber: Newsmaker.id