
Trending

Perak
Sumber: Newsmaker.id
Harga perak (XAG/USD) kembali melemah pada perdagangan Selasa (29/9) dan bergerak di sekitar US$60,75 per troy ounce. Tekanan datang dari kenaikan yield Treasury AS serta penguatan dolar, sementara ketidakpastian terkait Selat Hormuz menjaga harga energi tetap tinggi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi.
Yield Treasury AS 10 tahun naik ke sekitar 5,28%, level tertinggi sejak 2007. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober berada di sekitar 70%, sehingga aset tanpa imbal hasil seperti perak menghadapi tekanan.
Dari sisi geopolitik, Iran dan AS masih melakukan pembicaraan tidak langsung melalui mediator Qatar terkait pembukaan Selat Hormuz. Namun, belum ada terobosan berarti dan kedua pihak masih berbeda pandangan mengenai persyaratan kesepakatan. Trump juga membantah bahwa Washington telah menawarkan keringanan sanksi kepada Iran.
Di sisi lain, sejumlah data ekonomi AS mulai menunjukkan pelemahan. Consumer Confidence turun ke 81,9, sementara JOLTS Job Openings merosot menjadi 7,079 juta. Data tersebut berpotensi menjadi pertimbangan bagi The Fed, terutama jika pelemahan pasar tenaga kerja berlanjut.
Analisis Newsmaker:
Pergerakan perak saat ini berada di antara tekanan yield dan dolar AS yang tinggi serta peluang pelemahan ekonomi AS. Fokus berikutnya tertuju pada PCE, ISM Manufacturing PMI, dan NFP. Data yang lebih lemah dari ekspektasi dapat mengurangi tekanan terhadap perak, sementara data kuat berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dan menekan XAG/USD lebih lanjut.
Sumber: Newsmaker.id