
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks dolar AS (DXY) bergerak di sekitar 101,4 pada perdagangan Rabu dan berada di jalur untuk mencatat kenaikan sekitar 2% sepanjang September. Penguatan dolar masih didukung oleh kekhawatiran terhadap tekanan inflasi yang dipicu harga energi, ketahanan ekonomi Amerika Serikat, serta sinyal hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed).
Harga minyak masih berada pada level tinggi di tengah kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Meski terdapat tanda-tanda membaiknya aliran energi dari kawasan Timur Tengah yang mulai meredakan kekhawatiran pasokan, harga energi yang tetap tinggi berpotensi mempertahankan tekanan inflasi dan menjadi pertimbangan bagi The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga berikutnya.
Ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga tambahan semakin menguat setelah Gubernur The Fed Michael Barr kembali menyatakan bahwa kenaikan suku bunga kemungkinan masih diperlukan untuk mengendalikan inflasi. Sementara itu, Presiden The Fed New York John Williams mengatakan kenaikan suku bunga pada akhir tahun dapat menjadi langkah yang tepat apabila kondisi ekonomi dan inflasi mendukung.
Pasar kini memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga The Fed hampir 1% dalam 12 bulan ke depan. Ekspektasi tersebut meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar, terutama ketika imbal hasil obligasi AS masih berada pada level tinggi. Namun, kekuatan dolar tetap akan sangat bergantung pada apakah data ekonomi berikutnya mampu mempertahankan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis Rabu sebagai indikator inflasi pilihan The Fed, kemudian laporan ketenagakerjaan bulanan AS pada Jumat. Data tersebut akan menjadi kunci bagi pasar dalam menilai apakah tekanan inflasi masih cukup kuat untuk mendorong kenaikan suku bunga tambahan sekaligus menentukan arah dolar AS pada perdagangan berikutnya.