
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas bergerak stabil setelah menguat 1,6% pada sesi sebelumnya, dengan bullion berada di kisaran US$4.180 per troy ounce. Penurunan harga minyak mulai meredakan kekhawatiran inflasi energi, tetapi kenaikan yield Treasury AS masih menjadi tekanan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Harga minyak yang lebih rendah didukung oleh pemulihan pasokan Timur Tengah setelah Arab Saudi meningkatkan aliran melalui jalur pipa utama. Kondisi ini membantu menekan risiko inflasi, meski harga Brent masih mencatat kenaikan sekitar 70% sepanjang tahun akibat konflik yang memasuki bulan kedelapan.
Di sisi lain, yield Treasury AS tenor panjang terus meningkat dan mencapai level tertinggi sejak 2002. Pernyataan sejumlah pejabat The Fed juga masih mengindikasikan kemungkinan pengetatan tambahan. Presiden The Fed New York John Williams menyebut satu kenaikan suku bunga lagi pada akhir tahun dapat diperlukan.
Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober mulai menurun menjadi sekitar 50% dari sebelumnya 70%. Perubahan ekspektasi tersebut memberikan sedikit ruang bagi emas untuk bertahan, meskipun dolar AS dan yield tinggi masih membatasi penguatannya.
Fokus pasar selanjutnya tertuju pada rilis PCE AS sebagai indikator inflasi utama The Fed dan data Non-Farm Payrolls (NFP). Kedua data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga dan berpotensi menentukan apakah emas mampu mempertahankan rebound atau kembali menghadapi tekanan jual.(gn)
Sumber: Newsmaker.id