
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melemah pada perdagangan Rabu (16/7) setelah laporan bahwa Arab Saudi menawarkan tambahan kargo minyak melalui Oman meredakan kekhawatiran terhadap skala gangguan pasokan Timur Tengah. Brent kini bergerak di sekitar US$107,97 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$104,52 per barel.
Tekanan muncul setelah Arab Saudi menawarkan tambahan pengiriman minyak kepada kilang-kilang Asia melalui mekanisme ship-to-ship di dekat Pelabuhan Sohar, Oman. Langkah ini dilakukan setelah serangan drone merusak pipa utama Saudi menuju Laut Merah.
Kabar tersebut sedikit mengurangi kekhawatiran bahwa gangguan ekspor Saudi akan berlangsung lebih besar dari perkiraan. Namun, lalu lintas kapal yang terlihat melalui Selat Hormuz masih sangat rendah, dengan hanya empat kapal melintas pada Selasa, turun dari tujuh sehari sebelumnya dan jauh di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 18 kapal.
Meski demikian, analis menilai arus minyak mentah dan produk energi melalui Hormuz masih cukup bertahan. Citi memperkirakan eskalasi Timur Tengah masih dapat menopang harga minyak dalam jangka pendek sebelum jalur Hormuz berpotensi dibuka kembali pada kuartal IV 2026.
Tekanan tambahan datang dari Amerika Serikat setelah American Petroleum Institute melaporkan stok minyak mentah naik 7,1 juta barel dalam pekan hingga 11 September. Angka tersebut berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan sekitar 1,6 juta barel.
Analisis Newsmaker: Koreksi Brent dan WTI menunjukkan sebagian premi risiko mulai berkurang setelah Saudi menemukan jalur tambahan untuk memasok pasar. Namun, harga masih berada di level tinggi dan kondisi Hormuz belum normal. Selama lalu lintas kapal tetap rendah dan pasar diesel global masih ketat, risiko kenaikan kembali tetap terbuka. Sebaliknya, jika pasokan Saudi meningkat dan stok AS terus bertambah, tekanan koreksi minyak bisa berlanjut. (arl)
Sumber: Newsmaker.id