
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas XAU/USD berada di sekitar US$4.019 per troy ounce pada perdagangan Jumat (23/10), setelah sebelumnya turun menembus level psikologis US$4.000 dan menyentuh titik terendah dalam tiga bulan. Emas masih berada dalam tekanan untuk sesi kedua berturut-turut karena ekspektasi suku bunga AS yang tinggi dan kenaikan harga minyak membatasi daya tarik logam mulia.
Meski sejumlah pejabat Federal Reserve memberikan sinyal bahwa belum ada urgensi untuk menaikkan suku bunga, pasar masih memperkirakan sekitar 80% peluang kenaikan suku bunga pada Desember. Kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak turut memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat, sehingga menjadi salah satu faktor yang menahan pemulihan emas.
Harga minyak masih bertahan dekat level tertinggi dalam sebulan akibat meningkatnya risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah. Konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran semakin memanas setelah serangan drone dan rudal menyasar bandara serta infrastruktur energi Saudi. Kondisi tersebut menjaga premi risiko geopolitik sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi berbasis energi.
Risiko geopolitik semakin meningkat setelah muncul laporan bahwa AS dan Israel telah menyiapkan rencana operasi militer terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS. Situasi tersebut turut mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. Pemulihan dolar dari level terendah tiga pekan kemudian memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas.
Pelaku pasar kini cenderung menahan posisi baru sambil menunggu kejelasan mengenai arah kebijakan Federal Reserve. Fokus utama tertuju pada pertemuan FOMC pekan depan, ketika The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga. Investor akan mencermati pernyataan kebijakan serta komentar Ketua The Fed Kevin Warsh untuk mencari petunjuk mengenai kemungkinan perubahan kebijakan pada Desember.
Setelah keputusan The Fed, perhatian akan beralih ke GDP AS kuartal III dan PCE Price Index. Data PCE menjadi penting karena merupakan salah satu indikator inflasi utama yang menjadi perhatian The Fed. Hasil data tersebut dapat memengaruhi arah dolar dan ekspektasi suku bunga, sekaligus menentukan apakah emas mampu kembali menembus US$4.000 atau melanjutkan tekanan bearish. (srh)
Sumber: Newsmaker.id