
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (15/9) karena penguatan dolar AS, kenaikan yield Treasury, dan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. XAU/USD diperdagangkan di sekitar US$4.280 per troy ounce, masih berada dekat level terendah lebih dari satu bulan di US$4.253 yang disentuh pada Senin.
Tekanan terhadap emas datang dari pasar obligasi AS. Yield Treasury tenor 10 tahun kembali mendekati 5%, sementara yield 30 tahun naik ke sekitar 5,40%, level tertinggi sejak 2007. Kenaikan yield meningkatkan daya tarik aset berbunga sekaligus menaikkan opportunity cost untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Dolar AS juga tetap kuat. Dollar Index berada di sekitar 99,60 dan mendekati level tertinggi dalam dua pekan. Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain dan menambah tekanan terhadap harga logam mulia.
Ekspektasi kebijakan The Fed masih menjadi penggerak utama. Inflasi CPI AS Agustus berada di 3,4% secara tahunan, sementara PPI naik menjadi 5,4% dari 4,8% pada Juli. Tingginya harga minyak akibat konflik Timur Tengah semakin meningkatkan kekhawatiran inflasi dan membuat pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan Rabu.
Meski demikian, tekanan jual emas belum terlalu agresif karena sebagian besar risiko hawkish The Fed dinilai sudah masuk ke harga. Pasar kini menunggu proyeksi ekonomi terbaru dan komentar Ketua The Fed Kevin Warsh untuk melihat apakah kenaikan September akan menjadi awal dari siklus pengetatan yang lebih panjang.
Analisa Newsmaker: emas masih menghadapi bias bearish dalam jangka pendek selama yield dan dolar tetap tinggi. Namun, jika The Fed hanya menaikkan bunga tanpa memberikan sinyal pengetatan lanjutan yang agresif, emas berpotensi mengalami rebound. Selain itu, pembelian bank sentral, ETF, dan kekhawatiran terhadap utang pemerintah global tetap menjadi penopang jangka menengah. (arl)
Sumber: Newsmaker.id