
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas turun lebih dari 1% ke kisaran US$4.375 per troy ons pada perdagangan Selasa (1/9), menyentuh level terendah sejak 19 Agustus. Tekanan datang dari kenaikan yield obligasi pemerintah AS yang mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Yield Treasury AS melonjak ke level tertinggi sejak Januari 2025 setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran inflasi. Harga energi yang lebih tinggi dinilai dapat mempertahankan tekanan harga di AS dan memperbesar kemungkinan Federal Reserve mengambil langkah pengetatan moneter dalam waktu dekat.
Ekspektasi kenaikan suku bunga semakin kuat setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan nada hawkish dalam simposium Jackson Hole pekan lalu. Warsh mengatakan bank sentral masih memiliki “pekerjaan yang harus dilakukan” apabila para pembuat kebijakan belum yakin bahwa inflasi bergerak kembali menuju target 2%.
Pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 66% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September, berdasarkan CME FedWatch Tool. Ekspektasi tersebut memberikan dukungan tambahan terhadap yield Treasury dan dolar AS, sekaligus menjadi kombinasi negatif bagi harga emas.
Perhatian investor kini beralih ke serangkaian data pasar tenaga kerja AS yang akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan The Fed. Laporan ketenagakerjaan ADP dijadwalkan rilis pada Rabu, sementara nonfarm payrolls akan menjadi agenda utama pada Jumat.
Data tenaga kerja yang tetap kuat berpotensi semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga karena menunjukkan perekonomian masih mampu menghadapi kebijakan moneter yang lebih ketat. Sebaliknya, pelemahan signifikan pada pasar tenaga kerja dapat menekan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga dan memberikan ruang bagi emas untuk pulih.
Analisa Newsmaker: Tekanan emas saat ini lebih banyak berasal dari lonjakan yield Treasury dan meningkatnya probabilitas kenaikan suku bunga The Fed. Area US$4.375 menjadi perhatian karena emas telah kembali ke posisi terendah sejak pertengahan Agustus. Jika ADP dan terutama NFP menunjukkan pasar tenaga kerja yang kuat, yield dan dolar berpotensi kembali naik sehingga emas dapat menghadapi tekanan lanjutan. Namun, data tenaga kerja yang jauh lebih lemah dari perkiraan dapat menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga dan menjadi katalis rebound bagi emas.(yds)
Sumber: Newsmaker.id