
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas turun lebih dari 2% pada perdagangan Selasa (1/9) ke level terendah dalam dua pekan, tertekan oleh tingginya yield Treasury AS dan penguatan dolar. Tekanan jual bertambah setelah harga emas bergerak di bawah rata-rata pergerakan 200 hari yang menjadi salah satu indikator teknikal penting bagi pelaku pasar.
Harga emas spot turun sekitar 2% menjadi US$4.360,39 per troy ons pada pukul 09.58 ET atau 13.58 GMT. Sebelumnya, emas sempat menyentuh level US$4.362,89, terendah sejak 19 Agustus. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS turun sekitar 1,6% menjadi US$4.409,30.
Tekanan teknikal menjadi salah satu faktor yang mempercepat pelemahan. Harga emas telah bergerak di bawah moving average 200 hari yang berada di sekitar US$4.528 sejak 28 Agustus. Analis pasar American Gold Exchange Jim Wyckoff menilai kondisi tersebut menjadi sinyal teknikal penting dan mendorong aksi jual tambahan.
Dari sisi fundamental, yield Treasury AS naik ke level tertinggi sejak Januari 2025. Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah memicu kekhawatiran inflasi dan aksi jual obligasi global, sehingga mendorong yield lebih tinggi.
Meski emas secara tradisional dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga dan yield obligasi biasanya menjadi tekanan karena meningkatkan opportunity cost memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil. Penguatan dolar juga membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Harga emas sebelumnya sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan pada pekan lalu sebelum anjlok lebih dari 3% pada Jumat. Penurunan tersebut terjadi setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh memperingatkan bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila inflasi tidak kembali menuju target 2%.
Pernyataan tersebut mendorong pasar meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada September. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga bulan ini sekitar 66%.
Investor selanjutnya akan mencermati laporan ketenagakerjaan ADP pada Rabu dan nonfarm payrolls pada Jumat. Kedua data tersebut diperkirakan menjadi penentu penting bagi ekspektasi kebijakan The Fed sekaligus arah pergerakan dolar, yield, dan emas.
Wyckoff menilai jalur yang paling mudah bagi emas dalam jangka pendek kemungkinan masih bergerak sideways hingga lebih rendah. Tekanan juga terjadi pada logam mulia lainnya, dengan perak turun 2,3% menjadi US$64,99 per ons, platinum melemah 1,4% menjadi US$1.766,66, dan palladium turun 1,6% menjadi US$1.334,88.
Analisa Newsmaker: Tekanan emas saat ini berasal dari kombinasi fundamental dan teknikal. Yield Treasury yang tinggi, penguatan dolar, serta meningkatnya peluang kenaikan suku bunga The Fed menjadi tekanan utama, sementara posisi harga di bawah MA 200 hari memperbesar risiko aksi jual lanjutan. Selama emas belum mampu kembali menembus area US$4.528, bias jangka pendek masih cenderung lemah. Namun, data ADP atau NFP yang jauh lebih lemah dari perkiraan dapat menekan yield dan dolar sekaligus membuka peluang rebound pada emas.(yds)
Sumber: Newsmaker.id