
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Amerika Serikat dan Iran mulai mengeksplorasi kemungkinan kesepakatan bertahap untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir tujuh bulan, dengan Selat Hormuz menjadi pusat negosiasi utama. Dalam skenario yang dibahas, Iran berpotensi membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut, sementara AS mempertimbangkan pengurangan blokade ekonomi yang selama ini menekan perekonomian Teheran.
Selat Hormuz menjadi kartu tawar terbesar kedua pihak karena jalur ini merupakan salah satu rute energi paling penting dunia. Iran menginginkan pencabutan tekanan ekonomi serta akses terhadap aset yang dibekukan, sementara Washington menuntut kebebasan navigasi bagi kapal internasional yang melewati kawasan tersebut.
Namun, proses diplomasi masih menghadapi hambatan besar karena kedua pihak enggan menjadi yang pertama melepas posisi tawarnya. Sumber yang mengetahui pembicaraan menyebutkan bahwa salah satu opsi yang dibahas adalah penyelesaian secara bertahap, dimulai dari pembukaan kembali Hormuz dan pengurangan blokade ekonomi AS terhadap Iran.
Dari sisi politik, Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan peluang kesepakatan dengan Iran dapat terjadi setelah pemilu paruh waktu AS pada November. Namun, sejumlah pihak menilai periode sebelum pemilu justru menjadi momen penting karena kedua negara memiliki kepentingan untuk mengurangi tekanan ekonomi dan geopolitik.
Iran disebut masih memiliki daftar tuntutan yang panjang, sementara Amerika Serikat tetap meminta jaminan terkait keamanan kawasan dan kebebasan pelayaran. Selain isu Hormuz, Washington juga menyoroti program nuklir Iran, sedangkan Teheran menegaskan tidak akan menyerahkan hak pengembangan teknologi nuklir untuk kepentingan sipil.
Analisis Newsmaker: Negosiasi AS-Iran saat ini berada pada titik penting karena kedua negara memiliki kepentingan yang saling bertolak belakang. Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan, sementara AS menggunakan sanksi ekonomi sebagai instrumen negosiasi. Jika tercapai kesepakatan, dampaknya berpotensi besar terhadap harga minyak, inflasi global, dan sentimen pasar. Namun, selama kedua pihak masih mempertahankan tuntutan utama masing-masing, risiko ketidakpastian geopolitik tetap tinggi.
Sumber: Newsmaker.id