
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Militer Amerika Serikat dilaporkan telah menyiapkan sejumlah rencana serangan baru terhadap Iran yang berpotensi mencakup penggunaan GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB), atau yang dikenal sebagai “Mother of All Bombs”. Menurut laporan CNN, opsi tersebut dapat digunakan untuk menyerang infrastruktur energi dan fasilitas nuklir Iran jika Presiden AS Donald Trump memerintahkan dimulainya kembali operasi militer.
MOAB merupakan bom terbesar dalam persenjataan konvensional Amerika Serikat dan bukan senjata nuklir. Penggunaan bom tersebut dalam konflik Iran akan menjadi eskalasi signifikan, terutama jika serangan diarahkan terhadap fasilitas energi dan nuklir yang memiliki nilai strategis bagi Teheran.
Meski demikian, sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan internal militer AS meninjau efektivitas MOAB dalam mencapai tujuan strategi yang telah ditetapkan Trump. Penggunaan senjata tersebut juga dinilai belum tentu mengubah keseimbangan konflik, sehingga keputusan akhir tetap bergantung pada pertimbangan strategis dan politik Washington.
Rencana tersebut muncul di tengah cuaca buruk mengenai kemungkinan Amerika Serikat kembali melakukan operasi militer terhadap Iran, baik sebelum maupun setelah pemilihan umum sela AS. Setiap keputusan untuk melanjutkan serangan berpotensi meningkatkan ketegangan regional dan memberikan dampak terhadap keamanan energi serta jalur pelayaran di Timur Tengah.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik juga meningkat di Eropa. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Kyiv akan kembali melancarkan serangan jarak jauh terhadap kilang minyak Rusia, menurut laporan Financial Times. Langkah tersebut terjadi ketika hubungan Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat kembali berada dalam kondisi yang semakin tegang. (asd)
Sumber: Newsmaker.id