
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan persiapan untuk memperkenalkan senjata baru yang dijuluki Father of All Bombs.
Juru bicara IRGC, Hossein Mohebi, pada Rabu (21/10/2026) menyatakan bahwa senjata tersebut disiapkan sebagai kemampuan baru dalam menghadapi ancaman musuh, meskipun spesifikasi dan kekuatan penghancurnya belum diungkapkan. Pernyataan ini muncul menyusul laporan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan penggunaan bom GBU-43/B atau Mother of All Bombs untuk menyerang fasilitas strategis Iran.
Teheran juga mengklaim persediaan rudalnya telah meningkat 1,5 kali lipat sejak konflik dengan Israel pada Juni 2025, sekaligus menegaskan perubahan strategi militer menuju serangan balasan yang lebih agresif. Meningkatnya ancaman dari kedua pihak memperbesar kekhawatiran terhadap eskalasi konflik Timur Tengah, terutama risiko gangguan pasokan energi dan jalur perdagangan minyak global.
Kesimpulan dan Dampak terhadap Market
Pernyataan Iran menunjukkan risiko eskalasi geopolitik masih tinggi, meskipun keberadaan dan kemampuan senjata baru tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
- Minyak (Brent/WTI): Berpotensi menguat apabila ancaman berkembang menjadi gangguan nyata terhadap fasilitas energi atau pengiriman melalui Selat Hormuz.
- Dolar AS (DXY): Berpotensi mendapat dukungan dari permintaan aset aman dan kekhawatiran inflasi akibat kenaikan minyak.
- Emas (XAU/USD): Berpotensi memperoleh permintaan safe haven, tetapi penguatannya dapat tertahan apabila kenaikan harga energi memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi The Fed.
- Indeks saham global: Berisiko tertekan akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran terhadap biaya energi.
Pandangan Newsmaker: Ancaman militer belum tentu langsung mengganggu pasokan minyak. Namun, jika konflik benar-benar meluas dan menyerang infrastruktur energi, dampaknya dapat menjalar ke inflasi global, kebijakan suku bunga, serta pergerakan dolar dan emas.(yds)
Sumber: Newsmaker.id