Kredit Macet Meledak, Asia Tunduk
Saham Asia tergelincir saat pembukaan Jumat setelah sentimen risiko memudar di Wall Street, menyusul kabar kredit macet di dua bank AS yang memperbesar kekhawatiran pasar kredit. Futures indeks AS juga mengindikasikan pelemahan lanjutan. Jepang, Australia, dan Korea Selatan kompak terkoreksi, sejalan dengan lesunya Wall Street semalam: S&P 500 turun 0,6% (sektor finansial -2,8%) dan Nasdaq 100 melemah 0,4%.
Aset lindung nilai menguat: emas dan perak menyentuh rekor tertinggi, sementara imbal hasil Treasury lanjut turun—yield 2-tahun ke level terendah sejak 2022 dan 10-tahun di bawah 4%. Indeks dolar melemah, menuju pekan terburuk sejak akhir Juli. Di sisi perbankan regional AS, aksi jual berlanjut setelah dampak kolapsnya pemberi pinjaman subprime otomotif Tricolor Holdings meluas: Zions Bancorp jatuh 13% usai charge-off $50 juta terkait pinjaman California Bank & Trust, dan Western Alliance Bancorp turun 11% karena eksposur ke debitur yang sama.
Kekhawatiran pasar makin menggunung: shutdown pemerintah AS, potensi gelembung AI, dan tensi dagang AS–Tiongkok. Meski begitu, Steve Sosnick (Interactive Brokers) menilai masalah saat ini masih “terisolasi” pada dua bank tersebut—belum sistemik. Dari Jepang, Gubernur BoJ Kazuo Ueda membuka peluang kenaikan suku bunga jika keyakinan pada prospek ekonomi menguat; yen memperpanjang penguatan tiga sesi beruntun. Soal perdagangan, Gedung Putih bersiap melonggarkan tarif untuk industri otomotif AS. Dari The Fed, Christopher Waller mendukung penurunan bertahap 25 bps, sementara Stephen Miran mendorong pemangkasan lebih besar pada 2025. Rilis inflasi September tertunda akibat shutdown, sehingga fokus jangka pendek pasar bergeser ke musim laporan keuangan. Di geopolitik, Trump dan Putin sepakat bertemu di Budapest; minyak turun ke low 5 bulan karena ekspektasi potensi aliran minyak Rusia yang lebih longgar.(asd)
Sumber : Newsmaker.id