Wall Street Terkoreksi, Lonjakan Minyak Tambah Tekanan Risk-off
Saham-saham AS melemah pada Kamis (5/3) ketika pasar “mengambil napas” setelah penguatan di sesi sebelumnya, sementara lonjakan harga minyak kembali mengangkat kekhawatiran inflasi dan menekan selera risiko. S&P 500 turun 0,4% bersama Nasdaq Composite, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 398 poin atau 0,8%.
Tekanan utama datang dari energi. Minyak mentah AS naik ke level tertinggi sejak Juni 2025 setelah Iran mengatakan telah mengenai sebuah kapal tanker minyak dengan rudal. Kontrak berjangka WTI melonjak sekitar 4% dan diperdagangkan di atas US$77 per barel, sementara Brent naik lebih dari 3% di atas US$83 per barel.
Pelemahan pada Kamis kontras dengan sesi Rabu, ketika saham menguat ditopang reli perusahaan teknologi dan semikonduktor berkapitalisasi besar. Dow saat itu berhasil memutus tren penurunan tiga hari, sementara S&P 500 dan Nasdaq membukukan kenaikan solid.
Di sisi geopolitik, kekhawatiran gangguan pasokan minyak dan gas sempat mereda setelah Presiden Donald Trump mengatakan AS bersiap menyediakan asuransi risiko dan pengawalan bagi kapal-kapal di Teluk Persia untuk membantu memastikan lalu lintas tetap bergerak melalui Selat Hormuz. Namun, ketidakpastian tetap tinggi karena Gedung Putih belum memberi kerangka waktu kapan jalur tersebut akan kembali aman bagi tanker.
Dengan harga minyak kembali naik tajam, pasar kini sensitif terhadap dua kanal utama: risiko inflasi energi yang dapat menahan ekspektasi pelonggaran suku bunga, serta potensi gangguan pasokan yang memperpanjang volatilitas di aset berisiko. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id