Saham Asia Galau, Apa yang Ditakutkan dari The Fed?
Saham-saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Selasa(9/12) karena pelaku pasar mulai cemas soal arah pelonggaran kebijakan The Fed ke depan, bukan hanya soal pemangkasan suku bunga yang hampir pasti terjadi minggu ini. Indeks MSCI Asia turun sekitar 0,2%, dengan bursa Korea, Jepang, dan Australia dibuka lebih rendah. Di sisi lain, futures saham AS justru sedikit menguat setelah S&P 500 turun 0,3% pada hari Senin dan imbal hasil obligasi AS ikut naik, sejalan dengan penurunan harga obligasi global. Imbal hasil obligasi Australia juga naik menjelang keputusan suku bunga bank sentral setempat.
Fokus utama pasar adalah keputusan The Fed pada Rabu, yang secara luas diperkirakan akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin. Namun, kekhawatiran muncul karena The Fed bisa saja memberi sinyal bahwa laju pemangkasan setelah ini akan lebih lambat, mengingat inflasi masih tinggi dan minimnya data baru selama penutupan pemerintahan sempat memecah pandangan internal pejabat Fed. Saat ini, pasar uang hanya memperkirakan dua kali pemangkasan tambahan hingga akhir 2026, turun dari tiga kali yang sempat diprediksi hampir seminggu lalu. Analis Oxford Economics, John Canavan, bahkan menyebut pemangkasan kali ini kemungkinan akan dibarengi nada yang tetap hawkish dan potensi jeda lebih panjang tahun depan.
Di sisi korporasi, saham chip Asia ikut jadi sorotan setelah Nvidia diberi izin Presiden Donald Trump untuk mengirim chip AI H200 ke Tiongkok dengan imbalan pemotongan penjualan 25%, mendorong saham perusahaan naik di perdagangan after-hours. Di Wall Street, tensi korporasi meningkat setelah Paramount Skydance meluncurkan tawaran pengambilalihan tidak bersahabat untuk Warner Bros. Discovery senilai $30 per saham tunai, yang menilai perusahaan sekitar $108,4 miliar termasuk utang. Di pasar komoditas, harga emas, perak, tembaga, dan minyak cenderung stabil setelah terkoreksi pada hari Senin, dengan minyak mentah sempat jatuh sekitar 2% karena fokus ke ekspor Rusia ke India.
Di kawasan lain, yen stabil setelah sebelumnya melemah usai gempa kuat 7,6 yang mengguncang pantai timur laut Jepang. Imbal hasil obligasi Jepang naik di seluruh tenor setelah data menunjukkan ekonomi Jepang menyusut dalam tiga bulan hingga September, memberikan pembenaran tambahan atas paket stimulus Perdana Menteri Sanae Takaichi. Namun hal ini diperkirakan tidak akan menggeser rencana Bank of Japan yang sedang berada di jalur normalisasi bertahap. Dari Tiongkok, Beijing menegaskan penguatan permintaan domestik sebagai prioritas ekonomi 2026 dengan pendekatan stimulus yang terukur. Di pasar obligasi global, imbal hasil US Treasury 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak September, memperpanjang tekanan di Eropa dan Jepang sekaligus menopang penguatan dolar AS, di tengah serangkaian lelang obligasi bernilai besar yang menunjukkan permintaan masih cukup solid. (az)
Sumber: Newsmaker.id