Brent Tembus $90, Hormuz Dorong Lonjakan Minyak dan Premi Risiko
Harga minyak kembali menguat pada Jumat (6/3) setelah gangguan pasokan terkait perang Timur Tengah makin menekan arus energi global. Brent diperdagangkan di sekitar US$88,46 per barel (sekitar +3,6%) setelah menembus $90,23 per barel, sementara kontrak WTI berada di kisaran US$85–86 per barel (sekitar +5% hingga +6%) pada sesi Eropa/AS.
Reli dipicu kemacetan pengapalan di Selat Hormuz yang dinilai mendekati “henti total,” memperketat pasokan fisik dan memperlebar premi risiko. Reuters mencatat Brent dan WTI berada di jalur lonjakan mingguan terbesar sejak 2020, seiring penutupan efektif rute tersebut menahan ekspor dan memaksa penyesuaian produksi di kawasan.
Tekanan pasokan juga muncul dari sisi kapasitas penyimpanan. Wall Street Journal melaporkan Kuwait mulai memangkas produksi di beberapa lapangan karena keterbatasan tempat menampung crude yang tertahan, sementara estimasi Citi menyebut hilangnya pasokan bisa mencapai 7–11 juta barel per hari akibat disrupsi Hormuz.
Di sisi kebijakan, Washington memberi sinyal langkah mitigasi untuk meredakan tekanan harga, termasuk pelonggaran terbatas pembelian minyak Rusia yang sudah berada di laut untuk membantu pasokan Asia. Namun pasar menilai efeknya terbatas selama arus tanker belum kembali normal dan risiko serangan terhadap infrastruktur/pelayaran tetap tinggi.
Bagi pasar makro, lonjakan minyak memperbesar risiko inflasi energi dan dapat menahan ruang pelonggaran suku bunga, terutama jika disrupsi berlarut. Variabel yang dipantau berikutnya adalah bukti pemulihan lalu lintas Hormuz, kemampuan produsen mengalihkan ekspor lewat jalur alternatif, serta seberapa cepat stok dan kapasitas penyimpanan di produsen Teluk menipis. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id