Bursa Asia Hijau, Bitcoin Tembus $90.000 Lagi
Bursa Asia diproyeksikan menguat pada Kamis, mengikuti reli Wall Street yang sudah naik empat hari berturut-turut menjelang libur Thanksgiving. Indeks berjangka Jepang dan China daratan mengisyaratkan pembukaan positif, sementara Australia sudah menguat di awal sesi dan Hong Kong cenderung datar. Dari AS, S&P 500 naik 0,7% dan Nasdaq 100 menguat 0,9%, didukung ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Pasar uang kini mem-pricing sekitar 80% peluang pemangkasan suku bunga 25 bps bulan depan, dengan tambahan tiga kali penurunan lagi hingga akhir 2026. Laporan Beige Book The Fed menunjukkan lapangan kerja di AS sedikit melemah, harga naik moderat, dan belanja konsumen melemah kecuali di segmen kelas atas. Klaim pengangguran awal justru turun tipis, sehingga gambaran ekonomi terlihat campuran, tapi belum cukup kuat untuk menggagalkan peluang rate cut pada 10 Desember. Indeks dolar turun tiga hari beruntun, sementara emas dan obligasi tenor panjang menguat.
Di aset kripto, sentimen yang membaik mendorong Bitcoin kembali naik menembus US$90.000 untuk pertama kalinya dalam hampir sepekan, setelah sebelumnya tertekan aksi jual selama sekitar satu bulan. Pergerakan ini datang di tengah volatilitas yang mulai mereda, arus masuk baru ke ETF Bitcoin AS, dan meningkatnya selera risiko pelaku pasar. Secara keseluruhan, pergerakan lintas aset ini mencerminkan optimisme hati-hati bahwa sikap The Fed akan makin dovish.
Dari sisi global, beberapa faktor lain juga ikut memengaruhi sentimen. Di Jepang, pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi berencana menerbitkan lebih banyak obligasi untuk membiayai paket stimulus. Di China, China Vanke mengusulkan penundaan pembayaran obligasi lokal, sementara New World Development di Hong Kong mendapat dukungan tambahan untuk skema tukar obligasi. Di Inggris, Kanselir Rachel Reeves memperluas buffer fiskal menjadi £22 miliar lewat kenaikan pajak, yang mengangkat pound dan obligasi pemerintah. Di pasar komoditas, harga minyak sedikit melemah karena pasar memantau upaya AS mendorong damai Rusia–Ukraina dan menunggu pertemuan OPEC+ akhir pekan ini.(asd)
Sumber : Newsmaker.id