Saham Asia Tergelincir Saat Harapan Rate Cut The Fed Mulai Pudar
Bursa saham Asia melemah di awal perdagangan setelah Wall Street anjlok, terutama sektor teknologi yang kembali jadi sumber tekanan. Indeks di Jepang, Korea Selatan, dan Australia dibuka turun, meski indeks kawasan Asia sebenarnya masih di jalur kenaikan ketiga dalam empat minggu. Di AS, S&P 500 ditutup turun 1,7% dan Nasdaq 100 turun 2,1%. Di Eropa, pound ikut tertekan setelah media melaporkan Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves batal menaikkan pajak penghasilan.
Dolar, emas, dan obligasi AS (Treasuries) masih menahan pelemahan sebelumnya, sementara komentar pejabat The Fed mulai membuat pasar ragu soal peluang pemangkasan suku bunga pada Desember. Laporan tenaga kerja AS untuk Oktober akan dirilis tanpa data tingkat pengangguran karena survei rumah tangga tidak dilakukan saat penutupan pemerintah. Tekanan jual di saham teknologi besar makin kuat karena valuasi dinilai sudah mahal, dan sebagian dana mulai berpindah ke sektor yang lebih defensif. Peluang rate cut Desember kini turun ke bawah 50%.
Meski Presiden Donald Trump sudah menandatangani aturan untuk mengakhiri penutupan pemerintah terpanjang dalam sejarah, butuh waktu sampai birokrasi berjalan normal lagi. Kekosongan sebagian data ekonomi akibat shutdown membuat sebagian pelaku pasar khawatir The Fed justru memilih menahan suku bunga. Pernyataan sejumlah pejabat The Fed juga cenderung hati-hati: kebijakan harus tetap agak ketat, inflasi masih di atas target, dan tidak semua pejabat setuju dengan pemangkasan terakhir.
Di luar isu suku bunga, Trump juga menyiapkan pemangkasan tarif yang cukup besar untuk meredam kenaikan harga pangan dan mendorong serangkaian kesepakatan dagang baru. Di Asia, perhatian tertuju pada rilis data China hari Jumat, termasuk harga rumah, penjualan ritel, dan tingkat pengangguran. Sebelumnya, data bank sentral China menunjukkan pertumbuhan kredit bulan lalu adalah yang paling lemah dalam lebih dari satu tahun, menandakan permintaan pinjaman dan aktivitas ekonomi masih lesu. Semua ini membuat pelaku pasar di kawasan Asia cenderung berhati-hati.(asd)
Source : Newsmaker.id