Dolar Melemah, PPI Dingin Pangkas Peluang Fed Hike
Dolar AS melemah pada perdagangan Kamis (13/8) setelah data inflasi produsen yang lebih rendah dari perkiraan kembali menekan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Indeks dolar turun sekitar 0,1% ke level 99,94 dan berpeluang menghentikan reli selama tiga hari berturut-turut.
Data Producer Price Index Juli menunjukkan headline PPI tidak berubah secara bulanan dan naik 4,7% secara tahunan. Angka tersebut lebih rendah dari perkiraan pasar dan melambat dari kenaikan 5,5% pada Juni. Core PPI juga naik hanya 0,2% secara bulanan, di bawah estimasi 0,3%, sementara secara tahunan berada di 4,2%.
Dengan CPI dan PPI yang sama-sama menunjukkan perlambatan secara tahunan, pasar semakin yakin tekanan inflasi mulai mereda. Meski The Fed lebih memperhatikan Core PCE sebagai indikator inflasi utama, komponen CPI dan PPI tetap menjadi bagian penting dalam pembentukan data tersebut.
Setelah rilis PPI, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September turun menjadi sekitar 34%, sementara peluang suku bunga dipertahankan naik menjadi hampir 66%. Perubahan ekspektasi ini menjadi faktor utama yang menekan dolar.
Di pasar mata uang lainnya, yen Jepang masih sedikit melemah dengan USD/JPY bergerak sekitar 159,52, sehingga terus menghapus sebagian penguatan pasca-intervensi akhir Juli. Poundsterling juga turun tipis ke sekitar 1,3485 meski data GDP Inggris menunjukkan ekonomi kembali tumbuh 0,4% pada Juni.
Analisis Newsmaker: PPI yang lebih dingin memperkuat pandangan bahwa The Fed memiliki ruang lebih besar untuk menahan suku bunga pada September. Kondisi ini cenderung membatasi kenaikan DXY di sekitar level 100. Jika data berikutnya kembali lemah, dolar berpotensi melanjutkan koreksi dan memberikan dukungan bagi emas. Namun, rebound harga minyak atau data ekonomi yang lebih kuat tetap dapat menghidupkan kembali ekspektasi Fed hike.(yds)
Sumber: Newsmaker.id