Dolar Melemah Saat Harapan Deal AS-Iran Redakan Permintaan Safe Haven
Dolar AS melanjutkan pelemahan terhadap mayoritas mata uang utama pada Jumat (29/5) dan mengarah menutup pekan lebih rendah. Sentimen pasar membaik setelah laporan bahwa AS dan Iran mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata di Timur Tengah serta melonggarkan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz.
Menurut laporan Reuters, kesepakatan ini masih menunggu persetujuan Presiden Donald Trump. Jika disetujui, gencatan senjata akan diperpanjang 60 hari dan arus pelayaran di Selat Hormuz kembali dibuka sambil negosiator membahas isu yang lebih sulit, termasuk program nuklir Iran.
Penurunan harga minyak ikut mengurangi kebutuhan dolar sebagai aset aman (safe haven). Namun pergerakan pasar tetap tertahan karena investor masih ragu apakah kesepakatan ini benar-benar akan bertahan, menyusul sinyal yang sempat berubah-ubah dari Washington dan Teheran sepanjang pekan.
Di pasar valuta, euro berada di sekitar US$1,1653, sementara pound relatif datar di US$1,3445. Dolar Australia bertahan di US$0,7164 dan dolar Selandia Baru naik ke US$0,5946, mendekati level terkuat lebih dari dua minggu.
Indeks dolar yang mengukur dolar terhadap sekeranjang mata uang utama berada di sekitar 98,997, setelah turun 0,2% pada Kamis. Secara mingguan, indeks ini mengarah turun sekitar 0,3%, berpotensi memutus dua pekan kenaikan beruntun.
Dari sisi data, inflasi AS disebut naik pada laju tercepat dalam tiga tahun pada April, didorong energi yang lebih mahal akibat perang Iran. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa The Fed bisa menahan suku bunga tetap tinggi lebih lama, yang biasanya menopang dolar. Namun pada sesi ini, meredanya risiko geopolitik mengurangi dorongan safe haven dolar, sehingga pasar kembali menimbang apakah tren pelemahan dolar akan berlanjut ketika isu Timur Tengah mereda.(asd)
Sumber: Newsmaker.id