Dolar Melemah Usai Laporan Deal AS–Iran
Dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama pasca laporan bahwa AS dan Iran mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata, meski masih menunggu persetujuan final Presiden Donald Trump.
Bloomberg Dollar Spot Index turun 0,2% pada Kamis, berbalik arah dari penguatan awal yang sempat didorong bentrokan semalam.
Di kelompok G-10, mata uang yang sensitif terhadap sentimen risiko seperti krona Swedia dan dolar Selandia Baru memimpin penguatan, sementara euro sempat menembus US$1,1650. Pasar menilai peluang de-eskalasi dapat memangkas premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang greenback.
Menurut Axios, memorandum of understanding (MoU) AS–Iran mencakup perpanjangan gencatan senjata 60 hari, pembukaan negosiasi soal masa depan program nuklir Iran, serta pelayaran tanpa hambatan melalui Hormuz. Namun, trader menahan euforia karena kesepakatan belum final dan masih bergantung pada restu Trump, sehingga arah dolar dalam beberapa pekan ke depan dinilai tetap headline-driven.
Dolar juga sempat tertekan oleh data inflasi AS. Indeks harga PCE April naik 0,4% MoM, lebih rendah dari perkiraan 0,5%, yang memberi ruang bagi pandangan bahwa The Fed bisa menahan suku bunga tanpa perlu segera mengetatkan lagi. Meski begitu, pasar swap masih mem-price-in peluang sekitar 60% untuk kenaikan suku bunga seperempat poin hingga akhir tahun di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh, seiring kekhawatiran inflasi “lengket” akibat biaya energi global.
Sejak konflik pecah akhir Februari, dolar disebut naik sekitar 1%, sementara Brent melonjak sekitar 30%, mendorong investor menilai ulang daya tahan masing-masing mata uang terhadap guncangan komoditas. Goldman Sachs menilai jika konflik mereda, mata uang yang paling terpukul oleh shock energi—termasuk SEK, NZD, dan GBP—berpotensi mengungguli peers karena sentimen risiko membaik dan efek “terms of trade shock” berbalik arah.(yds)
Sumber: Newsmaker.id