Dolar Menguat, Risiko Iran dan PCE Jadi Penentu
Dolar AS melanjutkan penguatan pada Kamis (28/5) setelah AS menyerang target militer Iran untuk kedua kalinya pekan ini, sementara Kuwait mengatakan pihaknya merespons ancaman rudal dan drone. Indeks Bloomberg Dollar Spot sempat naik hingga 0,3% ke level tertinggi sejak 8 April, meski dorongan awal mulai mereda ketika harga minyak turun dan Treasury memangkas pelemahan sebelumnya.
Di pasar obligasi, yield Treasury AS tenor 10 tahun naik sekitar 1 bps ke 4,49%, setelah sempat menyentuh 4,53% intraday. Pasar menunggu rilis data AS yang menjadi sorotan, termasuk PCE April (indikator inflasi favorit The Fed), personal spending, dan jobless claims, yang berpotensi mengubah ekspektasi kebijakan dan arah dolar.
Terhadap yen, penguatan dolar kehilangan tenaga setelah yen memangkas pelemahan. USD/JPY turun 0,1% ke 159,38 setelah sempat menyentuh 159,65. Pasar juga menanti data Kementerian Keuangan Jepang pada Jumat untuk melihat seberapa agresif otoritas melakukan intervensi dalam sebulan terakhir, sementara opsi menunjukkan permintaan proteksi terkait risiko intervensi sempat menguat sebelum mereda.
Di Eropa, EUR/USD memangkas penurunan dan diperdagangkan sekitar 0,1% lebih rendah di 1,1618, dengan laporan adanya permintaan korporasi di dekat low harian serta faktor arus akhir bulan. GBP/USD turun 0,2% ke 1,3405, melanjutkan pelemahan untuk hari ketiga, seiring sterling semakin sensitif terhadap narasi dolar dan geopolitik global.
Ke depan, arah dolar kemungkinan ditentukan oleh kombinasi data PCE dan headline Timur Tengah. Jika inflasi AS kembali mengejutkan ke atas atau risiko geopolitik meningkat, dolar cenderung tetap mendapat dukungan; sebaliknya, pelemahan minyak dan data inflasi yang lebih dingin dapat membatasi penguatan lebih lanjut. (Arl)*
Sumber : Newsmaker.id