Indeks Dolar Menguat di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Risiko Inflasi
Indeks dolar menguat di atas 99,3 pada Kamis (28/05), melanjutkan kenaikan menuju level tertinggi tujuh pekan, setelah laporan mengenai serangan baru AS terhadap fasilitas militer Iran menambah ketidakpastian arah diplomasi kedua negara.
Prospek kesepakatan damai kembali mengabur karena perbedaan posisi masih lebar, termasuk insistensi Teheran untuk mempertahankan kontrol atas Selat Hormuz dan menjaga program nuklirnya. Presiden Donald Trump menyebut dirinya “tidak puas” dengan progres negosiasi, serta menolak laporan yang menyatakan Iran dan Oman dapat mengawasi pengapalan melalui Selat Hormuz secara bersama.
Kombinasi eskalasi geopolitik dan ketidakpastian jalur energi strategis seperti Selat Hormuz cenderung menjaga premi risiko di pasar. Di saat yang sama, kekhawatiran bahwa gangguan geopolitik dapat mempertahankan tekanan inflasi ikut memperkuat sensitivitas pasar terhadap prospek suku bunga, yang pada gilirannya menopang permintaan terhadap dolar.
Perhatian investor kini beralih ke rilis indeks harga PCE, ukuran inflasi yang menjadi acuan utama Federal Reserve, untuk mendapatkan petunjuk baru mengenai jalur kebijakan suku bunga AS dalam beberapa bulan ke depan.
Pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 50% untuk kenaikan suku bunga Fed pada Desember, sehingga arah dolar akan sangat dipengaruhi oleh apakah PCE mengonfirmasi tekanan inflasi yang tetap tinggi atau mulai mereda. Selain data, pelaku pasar juga akan memantau perkembangan negosiasi AS-Iran, headline terkait serangan lanjutan, dan dinamika isu pengawasan pelayaran di Selat Hormuz sebagai faktor risiko yang dapat mengubah sentimen dengan cepat. (asd)
Sumber: Newsmaker.id