Dolar Stabil, Fokus Beralih ke Jobless Claims dan PMI
Indeks dolar AS (DXY) bergerak stabil pada sesi AS hari Rabu (22/4), bertahan di sekitar level tertinggi sepekan karena pasar menilai perpanjangan gencatan senjata AS–Iran lebih sebagai “jeda sementara” ketimbang terobosan, sehingga risiko perang belum benar-benar mereda. DXY nyaris tidak berubah di sekitar 98,40 setelah sempat menyentuh low intraday 98,21.
Trump memperpanjang ceasefire hanya beberapa jam sebelum kedaluwarsa, namun Iran belum secara resmi menerima perpanjangan tersebut karena blokade angkatan laut AS masih berjalan—yang oleh Teheran disebut sebagai penghalang utama negosiasi. Juru bicara Kemenlu Iran Esmail Baghaei menyebut langkah itu sebagai tindakan “agresif”. Sentimen risk-on sempat membaik setelah pengumuman perpanjangan, tetapi tensi Selat Hormuz tetap menopang dolar, apalagi minyak masih tinggi dan menjaga kekhawatiran inflasi.
Kenaikan harga energi membuat pasar makin kecil berharap pemangkasan suku bunga Fed dalam waktu dekat. Survei Reuters menunjukkan 56 dari 103 ekonom memperkirakan suku bunga acuan Fed tetap di kisaran 3,50%–3,75% hingga akhir September, berbalik dari akhir Maret ketika hampir 70% masih memperkirakan setidaknya satu kali cut. Meski begitu, 71 ekonom masih melihat peluang minimal satu kali cut hingga akhir tahun.
Kalender data AS Rabu relatif sepi, sehingga pasar FX tetap headline-driven. Fokus berikutnya bergeser ke Jobless Claims dan S&P Global PMI awal pada Kamis, yang bisa memberi katalis tambahan bagi arah DXY di tengah dinamika geopolitik dan pergerakan minyak. (Arl)*
Sumber : Newsmaker.id