Trump Perpanjang Konflik, Dolar Rebound Tajam
Dolar AS menguat tajam pada Kamis (2/4) setelah dua sesi melemah, menyusul pidato Presiden Donald Trump soal Iran yang meredam ekspektasi pasar terhadap berakhirnya konflik dalam waktu dekat. Perubahan nada tersebut memulihkan permintaan aset aman, mendorong penguatan greenback bahkan terhadap mata uang safe haven lain seperti franc Swiss dan yen Jepang.
Dalam pidato televisi Rabu, Trump menjanjikan serangan yang lebih agresif terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan, tanpa menyampaikan jadwal konkret untuk membuka Selat Hormuz atau mengakhiri perang yang telah mengguncang sentimen investor. Militer Iran kemudian memperingatkan AS dan Israel akan menghadapi serangan yang “lebih menghancurkan, lebih luas, dan lebih destruktif”.
Di pasar valas, dolar naik 0,6% ke 0,799 per franc Swiss. Terhadap yen, dolar menguat 0,5% ke 159,57, mendekati level psikologis 160 yang kerap memicu kekhawatiran intervensi otoritas Jepang. Euro turun 0,45% ke US$1,1536 dan poundsterling melemah 0,63% ke US$1,3222, memangkas sebagian kenaikan sebelumnya. Indeks dolar naik 0,46% ke 100,02. Dolar Australia melemah 0,3% ke US$0,6904, sementara euro menguat 0,12% terhadap franc Swiss ke 0,921.
Kenaikan dolar terjadi bersamaan dengan lonjakan harga energi. Brent melonjak 7,78% dan ditutup di US$109,03 per barel, mencerminkan kembalinya premi risiko pasokan setelah pasar menilai potensi disrupsi dapat bertahan lebih lama. Dari sisi suku bunga, komentar Trump sempat mengangkat imbal hasil obligasi AS, namun pergerakan itu mereda; yield Treasury 10 tahun turun 1,6 bps ke 4,305%.
Perhatian pasar kini mengarah ke laporan non-farm payrolls AS pada Jumat, yang diproyeksikan naik 60.000 pada Maret. Data tenaga kerja berpotensi memengaruhi ekspektasi jalur suku bunga Federal Reserve, di tengah dinamika geopolitik yang terus menggerakkan dolar, minyak, dan volatilitas lintas aset. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id